ARUSBAWAH.CO - Salah satu akademisi di Kalimantan Timur (Kaltim) bernama Saiful Bahtiar, turut mengkritisi proses percepatan pergantian Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Bankaltimtara).
Ia menilai banyak kejanggalan dalam proses yang berjalan, terutama karena terkesan terburu-buru dan minim keterbukaan sejak awal.
Kepada Arusbawah.co, dosen FISIP Universitas Mulawarman (Unmul) itu melihat publik baru mengetahui proses itu ketika sudah masuk tahap akhir.
Padahal, tahapan seleksi disebut sudah berjalan cukup jauh sebelumnya dan tidak tersampaikan secara terbuka.
Menurut Saiful, kondisi itu memicu spekulasi di tengah masyarakat.
Ia menilai proses pergantian Dirut seperti dikejar target, bukan melalui mekanisme terbuka yang bisa diakses publik sejak awal.
“Ini menimbulkan banyak pertanyaan dan spekulasi. Karena sudah melewati beberapa tahapan, tapi publik baru tahu setelah muncul dua nama terakhir,” ujarnya.
Alasan Gubernur: Kasus Kredit Fiktif dan Penurunan Kinerja Bank
Seperti diketahui, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mencopot Muhammad Yamin dari posisi Dirut Bankaltimtara, meski masa jabatannya masih berlangsung hingga 2028.
Dalam RUPS Tahun Buku 2025, dua nama langsung muncul sebagai kandidat pengganti, yakni Romy Wijayanto dan Amri Mauraga.
Keduanya bahkan sudah dinyatakan lolos uji kelayakan dan kepatutan dari OJK.
Di balik keputusan itu, gubernur menyampaikan adanya persoalan serius di internal bank, termasuk kasus dugaan kredit fiktif di Kalimantan Utara dengan kerugian negara mencapai Rp208 miliar.
Selain itu, penurunan kinerja bank juga menjadi alasan Rudy Mas’ud mencopot Muhammad Yamin, terutama realisasi deviden yang hanya mencapai Rp191 miliar dari target Rp338 miliar.




