Namun, Saiful memandang alasan Rudy Mas’ud perlu dijelaskan lebih terbuka ke publik.
Ia menilai, jika alasan Kredit fiktif di Kaltara dijadikan persoalan, maka harus ada kejelasan apakah itu benar-benar berkaitan langsung dengan level direksi atau tidak.
“Kalau memang ada masalah hukum, harus jelas. Tidak bisa langsung disimpulkan begitu saja,” tegasnya.
Ia juga menilai penurunan kinerja tidak bisa dilihat secara sepihak.
Dalam situasi ekonomi yang sedang tidak stabil, termasuk turunnya pendapatan daerah, capaian target keuangan memang berpotensi terdampak oleh faktor eksternal.
Di sisi lain, Saiful justru melihat persoalan yang lebih mendasar, yakni soal minimnya ruang bagi Sumber Daya Manusia (SDM) Kaltim dalam proses seleksi.
Saiful menilai ada ketidakkonsistenan dalam penjelasan Rudy Mas’ud yang berkembang ke publik.
“Katanya tidak ada yang daftar, tapi ada juga yang bilang ada yang daftar tapi gugur di awal. Ini kan jadi pertanyaan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi itu memunculkan dugaan bahwa peluang tidak diberikan secara setara.
Padahal, Saiful meyakini Kaltim memiliki banyak figur yang layak dan kompeten untuk memimpin Bankaltimtara.
“Faktanya sudah dibuktikan oleh waktu. Banyak orang Kaltim yang mampu,” katanya.
Peringatan Keras: Jangan Sampai Orang Kaltim Diremehkan
Karena itu, Saiful mengingatkan agar tidak muncul narasi yang justru merendahkan kualitas SDM daerah sendiri.
Ia menilai pernyataan Rudy Mas’ud yang menyebut minimnya kandidat Kaltim bisa menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Jangan sampai kesannya orang Kaltim seolah diremehkan dan dianggap tidak mampu bersaing,” ujarnya.
“Ini jelas merendahkan kemampuan daerah sendiri,” tambahnya.
Tag



