ARUSBAWAH.CO - RSUD Kanujoso Djatiwibowo terus memantapkan langkahnya untuk menjadi lembaga pelatihan di bidang kesehatan.
Sebagai bagian dari proses tersebut, rumah sakit di Balikpapan ini telah melaksanakan sejumlah pelatihan yang didampingi oleh lembaga pelatihan tersertifikasi.
Hal ini dipaparkan langsung oleh Wakil Direktur SDM, Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian, Novita Retno Damayanti, kepada redaksi Arusbawah.co pada Senin (22/12/2025).
Empat Pelatihan Tersertifikasi Telah Dilaksanakan
Dalam tahap awal penguatan kapasitas, RSUD Kanujoso telah menyelenggarakan empat kali pelatihan.
Pelatihan tersebut meliputi Blue Code sebanyak dua kali, EWS satu kali, serta HAIs satu kali.
“Kemarin memang sudah kami lakukan sekitar empat pelatihan. Blue Code dua kali, EWS satu kali, dan HAIs satu kali,” ujar Novita.
Khusus pelatihan Blue Code, peserta tidak hanya berasal dari internal RSUD Kanujoso, tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai rumah sakit lain.
Peserta Datang dari Berbagai Rumah Sakit
Pelatihan Blue Code mendapat respons positif dari peserta luar daerah.
Tercatat sekitar 25 peserta berasal dari berbagai rumah sakit, di antaranya rumah sakit jantung, rumah sakit Bayangkara, rumah sakit di Penajam, hingga puskesmas.
Antusiasme peserta dinilai cukup tinggi karena pelatihan ini memberikan alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan harus mengikuti pelatihan di luar daerah.
“Responnya sangat positif, karena harapan mereka pelatihan ini bisa menekan biaya. Kalau harus mengirim ke luar tentu biayanya lebih mahal,” jelasnya.
Jangkau Ratusan Peserta, Kompetensi SDM Meningkat Signifikan
Dari sisi jumlah peserta, pelatihan yang dilaksanakan dinilai cukup signifikan.
Pelatihan Blue Code diikuti 100 orang per sesi sehingga total mencapai 200 peserta.
Sementara pelatihan EWS diikuti sekitar 80 peserta, dan HAIs juga telah dilaksanakan sesuai kebutuhan.
Jumlah ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan jika rumah sakit harus mengirim peserta ke luar daerah, yang biasanya hanya bisa mengikutkan lima hingga sepuluh orang dalam satu waktu.
Tekan Biaya dan Waktu, Pelayanan Tetap Optimal
Pelaksanaan pelatihan di lingkungan rumah sakit sendiri dinilai memberikan banyak keuntungan, terutama dalam hal efisiensi biaya dan waktu.
Rumah sakit tidak lagi dibebani biaya tambahan, seperti tiket pesawat, akomodasi, maupun transportasi.
“Kalau harus berangkat ke Surabaya atau Jakarta, tentu perlu tiket pesawat, hotel, dan waktu perjalanan. Itu otomatis mengganggu waktu pelayanan,” jelasnya.
Dengan pelatihan yang dilaksanakan di rumah sakit, tenaga kesehatan dapat langsung kembali bekerja setelah kegiatan selesai, tanpa harus kehilangan waktu pelayanan akibat perjalanan H-1 atau H+1 pelatihan.
Pelayanan Tidak Terganggu, SDM Tetap Terjaga
Keuntungan lainnya, pelatihan internal memungkinkan pengaturan jadwal kerja yang lebih fleksibel.
Tenaga kesehatan yang sedang bertugas pada sif pagi tetap dapat menjalankan pelayanan, sementara peserta pelatihan diatur dari sif malam atau yang sedang libur jaga.
“Artinya pelayanan tidak terganggu, waktunya lebih efektif, biayanya lebih efisien, dan target peningkatan kompetensi bisa lebih cepat tercapai,” tambahnya.
Dengan sistem ini, seluruh SDM rumah sakit diharapkan tidak lagi mengalami kendala dalam pengelolaan dan pemenuhan kompetensi.
Terbuka untuk Rumah Sakit dan Institusi Pendidikan
Ke depan, RSUD Kanujoso juga membuka peluang pemanfaatan fasilitas pelatihan bagi rumah sakit lain maupun institusi pendidikan yang ingin menyelenggarakan pelatihan jangka panjang.
Pelatihan tersebut ditawarkan dengan konsep efisiensi biaya tanpa mengurangi kualitas sehingga diharapkan dapat menjadi solusi peningkatan kompetensi SDM kesehatan secara berkelanjutan.
“Ini bisa dimanfaatkan juga oleh rumah sakit lain maupun institusi pendidikan, dengan biaya yang lebih bisa diefisiensikan,” pungkasnya.
(sobizz/apr)




