ARUSBAWAH.CO - Nur (40) hanya bisa membuka satu dari dua lapak yang dimilikinya di Gedung Pasar Pagi Samarinda.
Satu lapaknya berada di lantai bawah, sementara satu lagi berada di lantai tiga.
Bukan karena sengaja membiarkan salah satunya kosong, melainkan karena kondisi pasar yang masih sepi membuat ia tidak sanggup mengoperasikan keduanya sekaligus.
Lapak Nur hanyalah satu dari sekitar 1.500 kios dan lapak di Pasar Pagi yang hingga kini masih belum dibuka oleh pemegang haknya.
Berdasarkan pantauan media ini, masih banyak kios yang belum dibuka di lantai 5, 6, dan 7.
Pedagang kue kering itu mengaku sebenarnya sudah pernah mencoba membuka lapaknya yang berlokasi di lantai dua.
Namun setelah beberapa waktu berjualan, pembeli yang datang nyaris tidak ada.
"Sudah pernah dibuka. Tapi karena jarang ada orang masuk, akhirnya kami tutup lagi. Enggak ada yang belanja," katanya saat ditemui Arusbawah.co, Rabu (8/7/2026).
Akhirnya, ia memilih hanya membuka lapaknya yang berada di lantai tiga.
Kondisi itu berbeda jauh dibanding saat masih menempati Pasar Pagi lama.
Ketika itu, dua lapak miliknya berada berdampingan sehingga lebih mudah dijaga.
Kini, kedua kios tersebut justru berada di lantai yang berbeda.
Menurut Nur, ia tidak mungkin menjaga dua lapak sekaligus.
"Jadi waktu itu saya sendiri yang jaga bolak balik. Lama-lama karena capek, akhirny saya pilih buka yang di atas saja," tuturnya.
Sementara mempekerjakan karyawan juga bukan pilihan karena pemasukan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
"Kalau pakai karyawan juga takutnya enggak ada pembeli. Pemasukan enggak sesuai sama gaji yang harus dibayar. Jadi saya pilih buka yang di atas saja," ujarnya.
Informasi mengenai ultimatum dari Dinas Perdagangan agar seluruh kios ditempati paling lambat Agustus, atau hak penggunaannya akan ditarik kembali, membuat banyak pedagang resah. Tak terkecuali Nur.
Sebab, di satu sisi mereka diminta membuka kios, sementara di sisi lain pembeli yang datang masih sangat sedikit.
"Kami bingung. Mau dibuka, seminggu dua minggu enggak ada pembeli," kata Nur.
Nur mengatakan kondisi tersebut tidak hanya dialaminya.
Beberapa pedagang lain bahkan tetap membuka kios setiap hari meski hampir tidak memperoleh pemasukan.
Tujuannya bukan lagi untuk berjualan, melainkan agar lapaknya tidak dianggap kosong.
"Teman saya nomor tiga kadang buka cuma supaya lapaknya enggak diambil," katanya.
Sementara sebagian pedagang lainnya memilih menutup kios karena sudah tidak lagi memperoleh penghasilan.
"Teman saya yang nomor dua sudah tutup karena enggak dapat uang," ucapnya.
Menurut Nur, masih banyak pedagang, terutama di lantai bawah, yang tidak mendapatkan pemasukan setiap hari.
"Banyak teman saya yang di bawah (lantai dua) sama sekali enggak dapat uang tiap hari," katanya.
Nur menilai, sepinya pembeli tidak lepas dari tata letak gedung pasar yang berbeda dibanding Pasar Pagi lama.
Menurutnya, di pasar lama, pengunjung yang masuk akan menyusuri lorong-lorong sehingga hampir seluruh kios dilewati.
Sementara di gedung baru, akses yang saling terhubung membuat pengunjung lebih cepat keluar tanpa berkeliling.
"Orang masuk, lihat sepi, langsung keluar lagi. Kalau pasar lama kan lorongnya jelas, orang masuk pasti muter. Sekarang jalannya tembus-tembus, jadi pembeli cepat keluar," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tetap bertahan sambil berharap kondisi pasar perlahan membaik.
Sebab, menurutnya, banyak pedagang yang kini tidak lagi memiliki tempat lain untuk berjualan.
"Ya sekarang cuma bisa sabar," tutupnya.
Kondisi itu juga dialami Ahay (50).
Pedagang pakaian tersebut memiliki 11 petak di Gedung Pasar Pagi.
Namun hingga kini, dua di antaranya masih belum dibuka.
Sebab, biaya operasional yang dinilai belum sebanding dengan pemasukan. Apalagi, sebagian kios miliknya kini berada di lantai yang berbeda.
"Mana mungkin semua bisa dibuka. Dulu cukup dua karyawan. Sekarang kalau lima petak yang terpisah dibuka semua harus lima karyawan. Biaya operasionalnya tidak nutup," katanya kepada Arusbawah.co.
Menurut pria yang sudah berjualan di Pasar Pagi sejak tahun 1980-an ini, persoalan bermula saat penempatan kios di gedung baru.
Lima petak yang sebelumnya berdampingan justru ditempatkan di lokasi berbeda.
Ada yang berada di lantai dua, tiga, hingga empat.
Kondisi itu membuat aktivitas berdagang menjadi tidak efisien. Selain harus menambah pekerja, ia juga kesulitan mengawasi kios yang letaknya berjauhan.
"Yang di bawah sudah dibuka, yang lain dipisah-pisah. Bagaimana saya mau jualan kalau lima petak dipisah begitu?"
Ahay mengaku sempat menyampaikan keberatan saat proses pembagian kios.
Sebab, sebelumnya pedagang yang memiliki petak berdampingan dijanjikan akan memperoleh kembali posisi yang sama setelah relokasi.
Karena itu, ia mengaku tidak pernah mempermasalahkan mekanisme pengundian.
Yang dipersoalkan justru hasil penempatannya yang berbeda dengan kesepakatan awal.
"Yang saya pegang itu janjinya. Kalau surat saya petaknya gandeng, ya kembalikan gandeng."
Menurut Ahay, alasan agar kios tidak tertukar tidak menjawab persoalan yang dihadapi pedagang.
Sebab, dampaknya justru dirasakan langsung oleh mereka yang harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar.
Akibat kondisi tersebut, ia memilih belum membuka seluruh kiosnya.
Beberapa petak dimanfaatkan kerabatnya untuk berjualan, sementara dua lainnya masih dibiarkan tutup.
Selain penempatan kios, Ahay juga menilai aktivitas perdagangan di Gedung Pasar Pagi belum berjalan maksimal karena operasional fasilitas gedung belum mengikuti ritme pasar tradisional.
Ia mencontohkan lift dan eskalator yang baru beroperasi sekitar pukul 08.00 Wita. Padahal, menurutnya, aktivitas belanja sudah dimulai sejak subuh.
"Jam lima sampai enam itu orang sudah belanja. Tapi eskalator belum jalan. Ini pasar tradisional, bukan mal," keluhnya.
Menurut Ahay, kondisi tersebut membuat pengunjung enggan menuju lantai atas.
Ia bahkan pernah memperhatikan aktivitas pasar sejak pukul 05.30 hingga 07.30 Wita dan hampir tidak melihat pembeli yang naik ke area atas.
Di sisi lain, ia juga menilai belum hadirnya pedagang pasar basah membuat geliat Pasar Pagi belum kembali seperti dulu.
Menurutnya, keberadaan pedagang ikan, daging, dan sayur merupakan daya tarik utama yang selama ini menghidupkan pasar sejak pagi.
"Dulu jam enam sudah ramai. Orang lewat depan beli ikan, beli sayur, terus otomatis naik ke atas," tutupnya.
Cerita yang sama juga dialami Surati (68).
Sudah hampir enam bulan ia menempati kios barunya di lantai dua Pasar Pagi Samarinda.
Dari empat kios yang dimilikinya, baru dua yang dibuka.
Dua kios lainnya masih tertutup. Sebab, kondisi pasar yang dinilai belum cukup ramai untuk menopang operasional seluruh lapaknya.
Pedagang sembako yang sudah berjualan di Pasar Pagi selama 45 tahun itu mengaku kesulitan membuka semua kios sekaligus.
Selain membutuhkan tambahan modal, ia juga harus menyediakan orang untuk menjaga setiap lapak.
Sementara pendapatan yang diperoleh saat ini jauh menurun dibanding ketika masih berjualan di Pasar Pagi lama.
"Empat. Yang baru dibuka dua. Satu itu sebelah itu tutup, yang sebelah itu satu ditutup. Belum saya buka," katanya kepada Arusbawah.co.
"Nggak bisa (dibuka sekarang). Kayak apa mau buka. Siapa yang mau jaga? Pemasukan kurang," sambungnya.
Surati menjelaskan, sebelum revitalisasi seluruh kios miliknya berada dalam satu deretan sehingga mudah diawasi.
Kini, setelah penataan ulang, posisi kios terpisah sehingga menyulitkan untuk dioperasikan bersamaan.
"Kalau dulu memang 5, 6, 7, 8 berjejer. Kita minta jejer (sekarang) enggak boleh," ujarnya.
Menurut Surati, kondisi tersebut tidak lepas dari sepinya aktivitas perdagangan sejak pedagang menempati gedung baru pada Januari 2026.
Ia mengaku omzetnya turun drastis.
Bahkan hingga siang hari, tak jarang belum ada satu pun transaksi yang terjadi.
Saat ditemui Arusbawah.co, Surati mengaku belum memperoleh pembeli pertamanya hari itu.
Padahal, setiap hari ia membuka kios sejak pukul 09.00 hingga 16.00 Wita.
"Kadang-kadang seharian enggak dapat pelaris. Hari ini loh Rp1.000 belum dapat pelaris dari pagi," katanya.
Ia menilai salah satu penyebabnya adalah akses menuju lantai dua yang masih mengandalkan tangga.
Banyak pembeli, terutama lanjut usia, memilih tidak naik ke area tempatnya berjualan.
"Ya kurang, Mbak. Memang ini ngeluhnya di naik tangga. Kalau orang sudah sepuh ya enggak bisa tahan toh," ujarnya.
Selain akses menuju lantai atas, Surati juga menilai penataan lorong di gedung baru membuat pergerakan pembeli tidak merata.
Menurutnya, banyak lorong yang tidak saling terhubung sehingga pengunjung tidak berkeliling ke seluruh area pasar.
"Seharusnya di tengah ini kasih jalan. Jadi orang bisa ke sana sini," katanya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Pasar Pagi lama yang memiliki banyak akses antarlorong sehingga pembeli lebih leluasa berpindah dari satu blok ke blok lainnya.
"Kalau dulu setiap lima pintu ada lorong, setiap tiga pintu ada lorong. Jalan bisa dari arah sana ke sini," ujarnya.
Menurut Surati, kondisi itu membuat kios-kios yang berada di bagian dalam lebih sulit mendapatkan pembeli.
"Yang di dalam enggak pernah dapat pelaris. Yang dapat yang di pinggir-pinggir," katanya.
Disdag Beri Ultimatum Hingga Agustus
Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda memberikan batas waktu hingga Agustus 2026 bagi para pedagang untuk segera menempati kios yang telah menjadi haknya.
Jika hingga tenggat tersebut lapak masih dibiarkan kosong, pemerintah akan menarik kembali hak penggunaan dan mengalihkannya kepada pedagang lain yang benar-benar ingin berjualan.
Kepala Dinas Perdagangan Samarinda, Nurrahmani, mengatakan saat ini masih terdapat sekitar 1.500 kios dan lapak yang belum ditempati meski sebelumnya telah dibagikan kepada pedagang.
Padahal, berdasarkan perjanjian penggunaan, pedagang seharusnya sudah mulai menempati tempat usahanya paling lambat tiga bulan setelah penandatanganan.
"Sebenarnya kita belum mencoba untuk mengusahakan penuh dulu. Karena kalau menurut saya psikologi pedagang itu biasanya menunggu. Kalau ramai baru saya mau masuk. Sebenarnya kalau saling menunggu kan tidak ada titik temunya," katanya di DPRD Samarinda, Selasa (23/6/2026).
Menurut Nurrahmani, kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan di Pasar Pagi belum berjalan maksimal.
Pedagang yang sudah masuk masih kesulitan menarik pembeli karena belum semua kios terisi. Di sisi lain, masyarakat juga ragu datang lantaran khawatir barang yang dicari tidak tersedia.
"Mereka khawatir kalau mereka cari barang enggak ada. Jadi bermacam-macam hal yang harus kita benahi," ujarnya.
Nurrahmani menjelaskan, hampir seluruh kios dan lapak di Gedung Pasar Pagi sebenarnya telah memiliki pemegang hak.
Dari total yang tersedia, hanya sekitar 10 unit yang belum terbagi.
Artinya, sekitar 2.500 kios dan lapak telah dialokasikan kepada pedagang.
Namun, sekitar 1.500 di antaranya masih belum ditempati.
"Yang pasti, sisa lapak yang tidak terbagi cuma 10. Berarti sekitar 2.500-an sudah terbagi. Cuma yang 1.500-an itu yang masih belum ditempati," katanya.
Ia menegaskan, kios di Gedung Pasar Pagi disediakan untuk mendukung kegiatan ekonomi, bukan sebagai aset investasi yang dibiarkan kosong.
Karena itu, pemerintah kembali mengingatkan para pedagang agar segera menempati lapaknya sesuai perjanjian yang telah disepakati.
"Sesuai dengan perjanjian penggunaan kios itu sebenarnya tiga bulan setelah ditandatangani harus mereka sudah masuk ke situ. Patut kita ketahui bersama bahwa itu bukan untuk investasi, tapi untuk kegiatan ekonomi," tegasnya.
Disdag memberikan tenggat hingga Agustus 2026 bagi para pemegang hak untuk mulai menempati kiosnya.
Setelah itu, pemerintah akan mengambil langkah penertiban terhadap lapak yang tetap dibiarkan kosong.
"Kita sudah memberikan ultimatum. Sekitar Agustus terakhir harus sudah ditempati," ujarnya.
Apabila hingga batas waktu tersebut kios tetap tidak dimanfaatkan, hak penggunaan akan dicabut dan dikembalikan kepada pemerintah daerah untuk kemudian dialokasikan kepada pedagang lain yang siap berjualan.
"Kalau memang tidak ditempati berarti dikembalikan ke pemerintah daerah untuk kita berikan kepada pedagang yang memang betul-betul ingin berjualan dengan baik," pungkasnya.
(raf)




