Menurut pria yang sudah berjualan di Pasar Pagi sejak tahun 1980-an ini, persoalan bermula saat penempatan kios di gedung baru.
Lima petak yang sebelumnya berdampingan justru ditempatkan di lokasi berbeda.
Ada yang berada di lantai dua, tiga, hingga empat.
Kondisi itu membuat aktivitas berdagang menjadi tidak efisien. Selain harus menambah pekerja, ia juga kesulitan mengawasi kios yang letaknya berjauhan.
"Yang di bawah sudah dibuka, yang lain dipisah-pisah. Bagaimana saya mau jualan kalau lima petak dipisah begitu?"
Ahay mengaku sempat menyampaikan keberatan saat proses pembagian kios.
Sebab, sebelumnya pedagang yang memiliki petak berdampingan dijanjikan akan memperoleh kembali posisi yang sama setelah relokasi.
Karena itu, ia mengaku tidak pernah mempermasalahkan mekanisme pengundian.
Yang dipersoalkan justru hasil penempatannya yang berbeda dengan kesepakatan awal.
"Yang saya pegang itu janjinya. Kalau surat saya petaknya gandeng, ya kembalikan gandeng."
Menurut Ahay, alasan agar kios tidak tertukar tidak menjawab persoalan yang dihadapi pedagang.
Sebab, dampaknya justru dirasakan langsung oleh mereka yang harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar.
Akibat kondisi tersebut, ia memilih belum membuka seluruh kiosnya.
Beberapa petak dimanfaatkan kerabatnya untuk berjualan, sementara dua lainnya masih dibiarkan tutup.
Selain penempatan kios, Ahay juga menilai aktivitas perdagangan di Gedung Pasar Pagi belum berjalan maksimal karena operasional fasilitas gedung belum mengikuti ritme pasar tradisional.
Ia mencontohkan lift dan eskalator yang baru beroperasi sekitar pukul 08.00 Wita. Padahal, menurutnya, aktivitas belanja sudah dimulai sejak subuh.
"Jam lima sampai enam itu orang sudah belanja. Tapi eskalator belum jalan. Ini pasar tradisional, bukan mal," keluhnya.
Menurut Ahay, kondisi tersebut membuat pengunjung enggan menuju lantai atas.
Ia bahkan pernah memperhatikan aktivitas pasar sejak pukul 05.30 hingga 07.30 Wita dan hampir tidak melihat pembeli yang naik ke area atas.
Di sisi lain, ia juga menilai belum hadirnya pedagang pasar basah membuat geliat Pasar Pagi belum kembali seperti dulu.
Menurutnya, keberadaan pedagang ikan, daging, dan sayur merupakan daya tarik utama yang selama ini menghidupkan pasar sejak pagi.
"Dulu jam enam sudah ramai. Orang lewat depan beli ikan, beli sayur, terus otomatis naik ke atas," tutupnya.
Cerita yang sama juga dialami Surati (68).
Sudah hampir enam bulan ia menempati kios barunya di lantai dua Pasar Pagi Samarinda.
Dari empat kios yang dimilikinya, baru dua yang dibuka.
Dua kios lainnya masih tertutup. Sebab, kondisi pasar yang dinilai belum cukup ramai untuk menopang operasional seluruh lapaknya.
Pedagang sembako yang sudah berjualan di Pasar Pagi selama 45 tahun itu mengaku kesulitan membuka semua kios sekaligus.
Selain membutuhkan tambahan modal, ia juga harus menyediakan orang untuk menjaga setiap lapak.
Sementara pendapatan yang diperoleh saat ini jauh menurun dibanding ketika masih berjualan di Pasar Pagi lama.
"Empat. Yang baru dibuka dua. Satu itu sebelah itu tutup, yang sebelah itu satu ditutup. Belum saya buka," katanya kepada Arusbawah.co.
"Nggak bisa (dibuka sekarang). Kayak apa mau buka. Siapa yang mau jaga? Pemasukan kurang," sambungnya.
Surati menjelaskan, sebelum revitalisasi seluruh kios miliknya berada dalam satu deretan sehingga mudah diawasi.
Kini, setelah penataan ulang, posisi kios terpisah sehingga menyulitkan untuk dioperasikan bersamaan.
"Kalau dulu memang 5, 6, 7, 8 berjejer. Kita minta jejer (sekarang) enggak boleh," ujarnya.
Menurut Surati, kondisi tersebut tidak lepas dari sepinya aktivitas perdagangan sejak pedagang menempati gedung baru pada Januari 2026.
Ia mengaku omzetnya turun drastis.
Bahkan hingga siang hari, tak jarang belum ada satu pun transaksi yang terjadi.
Saat ditemui Arusbawah.co, Surati mengaku belum memperoleh pembeli pertamanya hari itu.
Padahal, setiap hari ia membuka kios sejak pukul 09.00 hingga 16.00 Wita.
Tag



