“Kami belum dapat menghitung apakah ada potensi mark up atau tidak, karena datanya tidak tersedia di sistem pengadaan, baik perencanaan ataupun pemilihan. Namun, berdasarkan pencarian melalui sumber terbuka, jika dilihat dari segi merek yaitu Range Rover Autobiography LWB PHEV, dari website resminya hanya Rp6,02 miliar. Patut diduga adanya potensi mark-up,” ujarnya.
Namun bagi ICW, perkara ini tak semata soal angka.
Wana menyebut, produk yang dibeli oleh Gubernur Kaltim bukan tentang harga wajar atau tidak, tapi tata kelola pemerintahan yang baik dan tentang kepantasan dirinya sebagai seorang pejabat publik (kepala daerah).
Ia memberi contoh opsi lain yang bisa ditempuh.
“Terkait dengan tata kelola pemerintah, misal, ada opsi gubernur menyewa kendaraan alih-alih membeli. Menyewa kendaraan jauh lebih efisien dibanding ketika membeli,” katanya.
ICW juga mendorong pengawasan dari pusat.
“Inspektorat Jendral Kementerian Dalam Negeri harus melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan anggaran oleh Gubernur karena hal tersebut merupakan wewenang Itjen,” demikian Wana.
(wan)
- Pokja 30: Marwah Tak Ditentukan Mewahnya Mobil Dinas, Buka Showroom Saja
- Tak Cuma untuk Gubernur, AKD di DPRD Kaltim Disiapkan Fasilitas Mobil Dinas, Hasan Mas'ud Bilang Inspektorat Kawal, BPK Juga Audit
- 'Jangan Saya Disuruh Pakai Kijang, Dek': Jawaban Rudy Mas’ud saat Ditanya Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar di Tengah Demo Mahasiswa
Tag




