ARUSBAWAH.CO - Hampir setahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud–Seno Aji, ditandai tekanan ekonomi yang belum juga membaik.
Dialog Publik yang digelar di Kedai Kopi Bagios, Samarinda, Minggu (21/12/2025), membedah bagaimana kebijakan pemerintah daerah berhadapan dengan tekanan global, melemahnya sektor batubara, dan struktur anggaran yang dinilai belum efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.
Penilaian Akademisi Unmul terhadap Kepemimpinan Rudy-Seno
Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Hairul Anwar, menilai 2025 sebagai tahun yang berat bagi kepemimpinan Rudy Mas’ud dan Seno Aji.
“2025 itu memang masa yang sulit. Di internasional, nasional, dan kita di daerah. Jadi memang tidak gampang menavigasi tahun 2025,” ujar Hairul dalam paparannya.
Menurutnya, pemerintah provinsi memiliki niat baik merealisasikan janji program unggulan seperti Gratispol dan JosPol.
Namun, persoalan muncul pada kesiapan pelaksana di lapangan.
“Personelnya belum siap melaksanakan. Akhirnya muncul diskrepansi di lapangan dan kritik di mana-mana,” katanya.
Tekanan Anggaran dan Tantangan Menyusun Belanja Daerah
Tekanan ekonomi, lanjut Hairul, makin terasa menjelang akhir tahun ketika pemerintah harus menyiapkan postur anggaran di tengah pemotongan TKD dan proyeksi ekonomi 2026 yang tidak membaik.
“Tidak gampang menyusun belanja yang bisa benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan 2025 masih bisa disebut masa transisi.
Namun, 2026 ia sebut seharusnya sudah bukan lagi fase coba-coba.
“Setahun ini mestinya sudah cukup pengalaman. Tim pemerintah daerah harusnya bisa lebih baik menavigasi 2026,” katanya.
Ancaman Lingkungan dan Ketergantungan Batubara
Selain eksekusi program yang lebih cepat dan akurat, Hairul juga menekankan komitmen menjaga lingkungan.
Industri ekstraktif, menurutnya, tetap menjadi ancaman serius bagi ekosistem Kaltim.
Sorotan tajam diarahkan ke sektor batubara.
Berdasarkan komunikasi Hairul dengan Kementerian ESDM, Dirjen Keuangan, Bank Indonesia, dan asosiasi pengusaha batubara, prospek 2026 dinilai suram.
“Saya tanya, ada enggak senyum-senyum soal batubara 2026? Jawabannya: parah,” katanya.
Ia menyebut, mayoritas batubara Indonesia berada pada kualitas menengah ke bawah dengan harga Rp40–50 ribu.
Di saat yang sama, biaya produksi terus naik sehingga margin keuntungan makin tipis.
Tag



