“Kita tidak melihat sesuatu yang luar biasa untuk tahun depan,” ujarnya.
Dari sisi produksi, kondisi ia sebut juga memburuk.
Tiga tambang di sekitar kawasan IKN ditutup, menyebabkan kehilangan sekitar 9 juta ton per tahun.
“Dari suplai saja sudah terpotong,” kata Hairul.
Perubahan Global dan Berakhirnya Masa Bulan Madu Pasca-Covid
Perubahan konstelasi global ikut mempersempit peluang.
Tidak ada lagi motor besar perdagangan internasional yang mendorong lonjakan ekonomi.
“Dulu kita bicara Amerika dan China. Sekarang semuanya berubah, bilateral ke mana-mana. Tidak ada ekonomi besar yang menggerakkan ekonomi global,” ujarnya.
Ia menyebut masa bulan madu pasca-Covid telah selesai.
“Sekarang mulai lagi dari awal,” lanjutnya
Struktur Ekonomi Kaltim dan Minimnya Diversifikasi
Ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap batubara memang turun secara persentase, dari 60–70 persen menjadi sekitar 40–45 persen.
Namun secara total dampaknya masih sangat besar.
“Ini warning. Dari dulu perencanaan ekonomi kita tidak berubah, diversifikasi usaha sangat rendah,” kata Hairul.
Masalah diperparah oleh aturan fiskal closed list system yang membatasi daerah menciptakan sumber PAD baru.
“Kita tidak bisa bikin aturan sembarangan. Daftarnya sudah ditentukan. Akhirnya kalau ke pusat jawabannya satu: pinjam,” ujarnya.
Padahal, menurut Hairul, masih banyak potensi pendapatan daerah yang belum tergarap.
Struktur APBD Kaltim Dinilai Timpang
Dari sisi belanja, struktur APBD Kaltim juga dinilai timpang.
Belanja modal hanya sekitar Rp1 triliun, sementara belanja operasional mencapai Rp8 triliun.
Hampir separuhnya terserap untuk belanja pegawai.
“Tunjangan dipotong, dampaknya langsung ke UMKM. Di Samarinda, 20–30 persen perputaran ekonomi itu dipengaruhi kebijakan belanja aparatur,” katanya.
Kritik Politikus: Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Melemah
Pandangan lain dari mantan anggota DPRD Kaltim, Sutomo Jabir, menilai tren ekonomi Kaltim justru menunjukkan pelemahan.
Tag



