"Omong kosong itu. Pendaftaran di aplikator lain sudah lama ditutup. Tidak mudah memindahkan ribuan driver begitu saja. Ini bukan solusi, tapi skenario membunuh satu aplikator dengan cara-cara yang tidak fair,” katanya.
- Maxim Akhirnya Tunduk Aturan Gubernur, Tapi Gojek dan Grab Masih Langgar Larangan Promo Hemat
- Gojek Rp18.800, Grab Rp19.200, Maxim Masih Rp12.000, Driver Tuntut Cabut Operasional atas Pelanggaran SK Gubernur
- Driver Ojol Tak Lagi Untung, Pemprov Kaltim Kirim Surat ke Kemenhub! Larang Operasional untuk Aplikator Bandel
Maxim Dianggap Lebih Menguntungkan Bagi Driver, Siap Evaluasi Tarif Jika Kantor Dibuka
Ia menjelaskan bahwa seluruh mitra Maxim di Samarinda sudah mengantongi izin resmi sebagai Angkutan Sewa Khusus (ASK) dan mematuhi ketentuan dari Kementerian Perhubungan.
Bahkan, potongan yang dikenakan Maxim disebutnya jauh lebih ringan dibandingkan aplikasi lain.
“Potongan di Maxim hanya 8 persen. Itu yang bikin kami tetap untung meski tarif lebih rendah. Tapi kami siap kok, kalau kantornya dibuka kembali, kami akan ajukan revisi tarif ke manajemen Maxim. Kami tidak menutup diri untuk evaluasi,” lanjutnya.
Tajuddin juga mengungkap bahwa dirinya pernah terlibat dalam penyusunan SK Gubernur soal tarif ASK.
Namun ia memutuskan mundur setelah menyadari adanya potensi cacat hukum dalam regulasi tersebut.
“Wagub itu baru menjabat, jadi tidak tahu prosesnya. Tapi dia langsung ambil keputusan sepihak yang mengorbankan penghidupan ribuan driver,” ucapnya.




