ARUSBAWAH.CO - Kehadiran seorang imam dari Mesir di Samarinda menjadi langkah penting Kalimantan Timur dalam menjaga reputasinya sebagai salah satu “lumbung” qori dan qariah terbaik di Indonesia.
Di tengah dominasi prestasi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional dalam beberapa tahun terakhir, Kalimantan Timur kini mulai membuka jalur pembinaan baru dengan mendatangkan langsung pengajar dari lingkungan keilmuan Islam di Mesir.
Ulama yang hadir tersebut adalah Ahmed Saad Fatouh Al Ajmi, imam dari Masjid Al-Azhar di Kairo sekaligus hafiz 30 juz yang dikenal aktif membina pembacaan Al-Qur’an.
Kedatangannya di Samarinda difasilitasi oleh LPTQ Kalimantan Timur untuk memberikan kajian dan pembinaan bagi qori dan qariah binaan daerah.
Hasil Studi Peradaban LPTQ Kaltim ke Mesir
Wakil Ketua II LPTQ Kalimantan Timur yang juga Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemprov Kaltim, Dasmiah, menjelaskan bahwa kunjungan imam Al-Azhar tersebut bukan agenda yang muncul secara mendadak.
Menurutnya, kehadiran ulama dari Mesir itu merupakan tindak lanjut dari perjalanan studi peradaban yang dilakukan LPTQ Kaltim ke Mesir pada Januari 2026 lalu.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi dari Kalimantan Timur bertemu dengan berbagai akademisi serta jaringan alumni Mesir internasional.
Dari pertemuan itu kemudian terbuka peluang kerja sama dalam bidang pembinaan Al-Qur’an.
“Ini merupakan hasil studi peradaban kita pada Januari lalu. Saat itu kami bertemu rektor di Kairo dan Ikatan Alumni Mesir Internasional, lalu dipertemukan dengan beliau,” ujar Dasmiah usai kegiatan Kajian Ramadan dan buka puasa bersama di Sekretariat LPTQ Kaltim, Jumat (13/3/2026).
Datang Secara Sukarela Tanpa Biaya Pemerintah
Menariknya, kegiatan tersebut tidak membebani anggaran besar dari pemerintah daerah.
Dasmiah menegaskan bahwa imam dari Mesir tersebut datang secara sukarela tanpa meminta bayaran.
Pemerintah daerah hanya menyiapkan fasilitas tempat tinggal sederhana selama berada di Samarinda.
“Beliau datang dengan sukarela. Kami tidak menanggung transportasi. Kami hanya menyiapkan tempat menginap,” jelasnya.
Langkah ini dinilai menjadi bentuk kolaborasi dakwah yang lebih terbuka, sekaligus memperluas jaringan pembinaan Al-Qur’an di Kalimantan Timur.
Pesan Al-Qur’an: Jangan Hanya Dibaca, Tapi Diamalkan
Dalam kajian yang disampaikan kepada para qori dan qariah, Ahmed Saad Fatouh Al Ajmi tidak hanya mengajarkan teknik membaca Al-Qur’an atau seni tilawah.
Ia justru menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yakni kecenderungan sebagian orang memahami Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan langsung kepada para pembina serta peserta MTQ yang selama ini dikenal sebagai generasi penghafal dan pembaca Al-Qur’an.
“Beliau mengingatkan bahwa kita adalah pencinta Al-Qur’an. Jangan sampai kita paham Al-Qur’an tapi tidak mengamalkannya. Jangan sampai Al-Qur’an hanya dijadikan sarana untuk riya atau mencari pujian,” kata Dasmiah.
Pesan tersebut terasa relevan dengan realitas di banyak daerah, di mana tradisi membaca Al-Qur’an sering kali berhenti pada panggung lomba.
Prestasi MTQ memang membanggakan, namun nilai-nilai Al-Qur’an belum tentu otomatis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kaltim Dianggap Lumbung Qori dan Qariah Nasional
Di sisi lain, kehadiran ulama dari Al-Azhar juga menjadi sinyal bahwa Kalimantan Timur mulai diperhitungkan dalam peta pembinaan tilawah nasional.
Menurut Dasmiah, Kaltim dipilih karena dinilai berhasil melahirkan banyak qori dan qariah berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Beliau juga menyampaikan bahwa Kalimantan Timur memiliki banyak pecinta Al-Qur’an dan qori-qoriah terbaik di Indonesia. Karena itu beliau datang ke sini,” ujarnya.
Kunjungan ini sekaligus membuka peluang kerja sama pembinaan lanjutan dengan dunia akademik di Mesir, termasuk jaringan pendidikan di lingkungan Al-Azhar.
Melalui hubungan tersebut, qori, qariah, dai hingga penghafal Al-Qur’an dari Kalimantan Timur berpeluang memperdalam ilmu melalui berbagai program kajian dan pelatihan di Mesir.
Meski demikian, Dasmiah menegaskan bahwa kunjungan ini tidak berkaitan langsung dengan program beasiswa resmi.
“Kalau beasiswa tidak ada hubungan langsung. Tetapi ini menjadi motivasi bagi qori dan qariah kita untuk memperdalam Al-Qur’an di Mesir,” jelasnya.

Safari Dakwah hingga IKN dan Balikpapan
Selama berada di Samarinda, Ahmed Saad Fatouh Al Ajmi dijadwalkan mengisi kajian di sejumlah masjid besar, termasuk kawasan Islamic Center Samarinda.
Selain itu, ia juga dijadwalkan memberikan kajian di kawasan Ibu Kota Nusantara sebelum melanjutkan perjalanan ke Balikpapan.
Rangkaian safari dakwah tersebut direncanakan berlangsung hingga 17 Maret 2026 sebelum sang imam kembali ke Mesir.
Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan tilawah para qori dan qariah Kalimantan Timur, tetapi juga memperdalam pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (sobizz/isa)




