“Semua itu dimakan orang Punan. Kalau PLTA jadi, habis semua terendam,” kata Lai.
Data Ilmiah Memperkuat Ancaman PLTA
Kesaksian masyarakat adat diperkuat oleh data ilmiah.
Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) mencatat kerapatan vegetasi kawasan ini mencapai 329,60 pohon per hektare.
Survei juga menemukan 72 jenis burung, 17 jenis mamalia, serta 35 spesies herpetofauna, yakni gabungan reptil dan amfibi.
Catatan internasional dari BirdLife International bahkan menetapkan TNKM sebagai Important Bird and Biodiversity Area (IBA), yang berarti kawasan penting bagi burung dan keanekaragaman hayati, dengan lebih dari 300 spesies burung terkonfirmasi.
Beberapa di antaranya adalah storm stork (bangau rawa hutan), black partridge (puyuh hitam), hingga wren babbler Kalimantan yang endemik.
Kawasan itu juga berstatus Kategori II IUCN (International Union for Conservation of Nature / Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam), yaitu kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi ketat.
Tenggelamnya Komitmen Perlindungan Jantung Kalimantan
Namun, rencana PLTA Mentarang Induk justru akan mengubah kawasan konservasi menjadi genangan air permanen.
Artinya, bukan hanya sungai yang akan tenggelam, tetapi juga komitmen perlindungan Jantung Kalimantan.
Bagi masyarakat adat Punan, proyek ini bukan sekadar pembangunan energi.
Itu adalah ancaman langsung terhadap ruang hidup, identitas budaya, dan pengetahuan ekologis yang telah dijaga selama ratusan tahun.
Sementara bagi dunia, hilangnya Sungai Tubu dan Sungai Mentarang berarti runtuhnya satu lagi benteng ekologi global di tengah krisis iklim yang kian memburuk.
(wan)
- Penjelasan Perusda MBS soal Tak Beli Kapal Baru di Bisnis Penyediaan Kapal Tunda! Simak Tarif Satu Kali Pengolongan
- Harta Kekayaan Taufik Adityawarman Dirut PT Kilang Pertamina Internasional Naik Rp18 Miliar Sejak 2022, Terbaru Rp60,5 Miliar
- Pemprov Kaltim Minta Maaf Usai Prabowo Tegur Posisi Duduk Sultan Kutai Kartanegara di Acara Pertamina Balikpapan
Tag




