ARUSBAWAH.CO - Pembangunan Proyek Srategis Nasional (PSN) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk dinilai menjadi ancaman serius bagi bentang ekologis Sungai Tubu, Sungai Mentarang, hingga sebagian kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
PLTA Mentarang Induk merupakan proyek yang diselenggarakan oleh perusahaan PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN).
Pembangkit itu dirancang berkapasitas 1.375 megawatt (MW) dan diproyeksikan menjadi pemasok utama listrik bagi Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kaltara.
Kebutuhan listrik kawasan industri itu diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2032 dengan kebutuhan energi sebesar 25.615 MW, angka yang hampir setara dengan total pasokan listrik Pulau Jawa yang saat ini mencapai 31.328,92 MW atau sekitar 69,71 persen dari pasokan nasional PLN di Jawa.
Namun, di balik ambisi energi itu, proyek ini disebut akan menenggelamkan sedikitnya 243,66 hektare kawasan TNKM, wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir ekosistem alami Heart of Borneo (Jantung Kalimantan), kawasan hutan hujan tropis lintas negara yang menjadi penyangga kehidupan global.
Sungai Tubu dan Sungai Mentarang sebagai Penopang Kehidupan
Sungai Tubu dan Sungai Mentarang bukan hanya sekadar aliran air.
Di wilayah itu hidup ratusan jenis flora dan fauna endemik ikan, burung, mamalia, hingga serangga yang membentuk rantai kehidupan utuh dan relatif belum terganggu.
Jika PLTA dibangun, seluruh sistem kehidupan tersebut terancam hilang.
Kesaksian Tetua Punan di Sungai Tubu
Lai Icu, tetua Suku Punan dari Sungai Tubu, menyebut kawasan ini sebagai ruang hidup yang diwariskan secara turun-temurun.
Di sepanjang simpang Tubu–Mentarang hingga wilayah Seratap, terdapat lebih dari 30 riam (giram) dengan debit aliran alami rata-rata 558 meter kubik per detik.
Arus deras ini menjadi habitat khusus bagi ikan-ikan endemik yang tidak bisa hidup di perairan tenang.
“Di sini sungainya hidup. Ikan, burung, bunga, semua saling makan,” ujar Lai, sambil menunjuk riam yang dipenuhi bebatuan, sebagaimana diceritakan dalam Penelitian Nugal Institute for Social Ecological Studies dan LP3M.
- Tancap Gas di Jalur yang Salah: KPA Nilai Kebijakan Agraria Prabowo Gibran Makin Sentralistik - Militeristik
- Nama-nama Besar di Balik PLTA Mentarang Kaltara, Laporan Nugal–LP3M Ungkap Siapa Menguasai Listrik dan Siapa Tergusur
- Di Proyek PLTA Mentarang Kaltara, NUGAL Institute Telusuri Dugaan 20 Aktor Oligarki - Korporasi
Burung Rangkong dan Rantai Ekologis yang Terancam
Dari pepohonan tinggi terdengar suara tuwou, atau burung rangkong, yang bagi masyarakat adat Punan merupakan simbol kesetiaan.
Menurut Lai, suara keras tuwou menandakan burung tersebut sedang menari sambil mengepakkan sayap di puncak pohon.
Saat ini, beberapa spesies rangkong berstatus Near Threatened (NT) yang berarti hampir terancam punah, dan Vulnerable (VU) yang berarti rentan punah.
Namun jika habitatnya ditenggelamkan, status itu berpotensi meningkat menjadi Critical Endangered (CR) atau kritis, sangat terancam punah.
Selain rangkong, kawasan ini juga menjadi rumah bagi burung murai (kilan), cucak hijau, serta burung pemakan ikan yang oleh orang Punan disebut tkuwanha.
Rantai makanan di wilayah ini masih berjalan alami.
Bunga dan buah piri serta kelungau dimakan ikan, ikan dimakan burung, dan seluruhnya menopang keseimbangan hutan.
Kekayaan Ikan Endemik Sungai Tubu dan Mentarang
Keanekaragaman ikan di Sungai Tubu dan Sungai Mentarang tergolong luar biasa.
Terdapat ikan berukuran besar seperti potin (lorong) dan pelian (ikan dewa), serta jenis lain seperti salap, mendayin, tikey, tawi, pulop, tukei, hingga belut lokal yang disebut telekai.
Ada pula ikan bekot, ikan yang hidup menempel di batu pada arus deras.
Jenis itu hanya bisa bertahan di sungai alami yang belum dibendung.
Jika aliran sungai ditenggelamkan, seluruh habitat ikan khas tersebut dipastikan hilang.
Satwa Darat dan Sumber Pangan Orang Punan
Di darat, jejak kehidupan juga sangat kaya.
Lubang landak, kijang, pelanduk, hingga owa-owa masih mudah ditemui di sekitar sungai.
Beragam buah hutan menjadi sumber pangan utama masyarakat adat, seperti durian hutan (docou), lai, tungen, pangin, kenti, hingga lempesu.
“Semua itu dimakan orang Punan. Kalau PLTA jadi, habis semua terendam,” kata Lai.
Data Ilmiah Memperkuat Ancaman PLTA
Kesaksian masyarakat adat diperkuat oleh data ilmiah.
Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) mencatat kerapatan vegetasi kawasan ini mencapai 329,60 pohon per hektare.
Survei juga menemukan 72 jenis burung, 17 jenis mamalia, serta 35 spesies herpetofauna, yakni gabungan reptil dan amfibi.
Catatan internasional dari BirdLife International bahkan menetapkan TNKM sebagai Important Bird and Biodiversity Area (IBA), yang berarti kawasan penting bagi burung dan keanekaragaman hayati, dengan lebih dari 300 spesies burung terkonfirmasi.
Beberapa di antaranya adalah storm stork (bangau rawa hutan), black partridge (puyuh hitam), hingga wren babbler Kalimantan yang endemik.
Kawasan itu juga berstatus Kategori II IUCN (International Union for Conservation of Nature / Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam), yaitu kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi ketat.
Tenggelamnya Komitmen Perlindungan Jantung Kalimantan
Namun, rencana PLTA Mentarang Induk justru akan mengubah kawasan konservasi menjadi genangan air permanen.
Artinya, bukan hanya sungai yang akan tenggelam, tetapi juga komitmen perlindungan Jantung Kalimantan.
Bagi masyarakat adat Punan, proyek ini bukan sekadar pembangunan energi.
Itu adalah ancaman langsung terhadap ruang hidup, identitas budaya, dan pengetahuan ekologis yang telah dijaga selama ratusan tahun.
Sementara bagi dunia, hilangnya Sungai Tubu dan Sungai Mentarang berarti runtuhnya satu lagi benteng ekologi global di tengah krisis iklim yang kian memburuk.
(wan)
- Penjelasan Perusda MBS soal Tak Beli Kapal Baru di Bisnis Penyediaan Kapal Tunda! Simak Tarif Satu Kali Pengolongan
- Harta Kekayaan Taufik Adityawarman Dirut PT Kilang Pertamina Internasional Naik Rp18 Miliar Sejak 2022, Terbaru Rp60,5 Miliar
- Pemprov Kaltim Minta Maaf Usai Prabowo Tegur Posisi Duduk Sultan Kutai Kartanegara di Acara Pertamina Balikpapan




