Dari pepohonan tinggi terdengar suara tuwou, atau burung rangkong, yang bagi masyarakat adat Punan merupakan simbol kesetiaan.
Menurut Lai, suara keras tuwou menandakan burung tersebut sedang menari sambil mengepakkan sayap di puncak pohon.
Saat ini, beberapa spesies rangkong berstatus Near Threatened (NT) yang berarti hampir terancam punah, dan Vulnerable (VU) yang berarti rentan punah.
Namun jika habitatnya ditenggelamkan, status itu berpotensi meningkat menjadi Critical Endangered (CR) atau kritis, sangat terancam punah.
Selain rangkong, kawasan ini juga menjadi rumah bagi burung murai (kilan), cucak hijau, serta burung pemakan ikan yang oleh orang Punan disebut tkuwanha.
Rantai makanan di wilayah ini masih berjalan alami.
Bunga dan buah piri serta kelungau dimakan ikan, ikan dimakan burung, dan seluruhnya menopang keseimbangan hutan.
Kekayaan Ikan Endemik Sungai Tubu dan Mentarang
Keanekaragaman ikan di Sungai Tubu dan Sungai Mentarang tergolong luar biasa.
Terdapat ikan berukuran besar seperti potin (lorong) dan pelian (ikan dewa), serta jenis lain seperti salap, mendayin, tikey, tawi, pulop, tukei, hingga belut lokal yang disebut telekai.
Ada pula ikan bekot, ikan yang hidup menempel di batu pada arus deras.
Jenis itu hanya bisa bertahan di sungai alami yang belum dibendung.
Jika aliran sungai ditenggelamkan, seluruh habitat ikan khas tersebut dipastikan hilang.
Satwa Darat dan Sumber Pangan Orang Punan
Di darat, jejak kehidupan juga sangat kaya.
Lubang landak, kijang, pelanduk, hingga owa-owa masih mudah ditemui di sekitar sungai.
Beragam buah hutan menjadi sumber pangan utama masyarakat adat, seperti durian hutan (docou), lai, tungen, pangin, kenti, hingga lempesu.
Tag



