Politani, lanjut Husmul, masih berusaha bertahan dengan sisa dana internal yang ada.
Namun, ruang gerak mereka kian terbatas.
“Kami masih bertahan, tapi ya defensif. Kalau dibilang megap-megap ya enggak juga, tapi jelas kami kesulitan. Kami berharap Pemprov Kaltim segera mencarikan solusi. Karena ini menyangkut kualitas layanan pendidikan,” tuturnya.
Keterlambatan pencairan ini, menurutnya, perlu jadi bahan evaluasi Pemprov Kaltim.
Terutama karena karakter keuangan antar kampus di Kaltim berbeda-beda ada yang BLU, ada yang satker.
“Pemprov harus paham karakter kampus binaannya. Kalau dicairkan akhir tahun, kampus BLU masih bisa bertahan. Tapi kami satker, kalau sudah lewat November, uangnya enggak bisa dipakai. Balik ke kas negara. Itu kan mubazir,” tegasnya.
Husmul berharap, Pemprov Kaltim tak hanya fokus pada pengumuman mahasiswa penerima Gratispol, tapi juga segera menyalurkan dananya agar operasional kampus tak lumpuh.
“Pendidikan ini kan soal masa depan anak-anak Kaltim. Kami berharap ada solusi cepat. Jangan sampai niat baik membantu mahasiswa justru bikin kampus megap-megap,” pungkasnya.
Hingga kini, Politani pun belum mendapat informasi pasti kapan dana Gratispol akan ditransfer ke rekening kampus penerima.
(wan)
Tag




