ARUSBAWAH.CO - Kalimantan Timur (Kaltim) dihuni sekitar 4,276 juta jiwa per tahun 2025.
Namun, pertambahan penduduk itu tidak serta-merta membuat hidup lebih ringan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim justru memperlihatkan fakta bahwa biaya hidup layak terus naik, sementara kemiskinan belum sepenuhnya teratasi.
Garis Kemiskinan Kalimantan Timur Terus Meningkat
Sepanjang 2017 hingga 2024, garis kemiskinan di Kaltim terus meningkat, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Pada Maret 2017, garis kemiskinan di kota tercatat Rp555.880 per kapita per bulan, sementara di desa Rp532.719.
Tujuh tahun berselang, tepatnya September 2024, angkanya melonjak menjadi Rp862.414 di perkotaan dan Rp833.539 di perdesaan.
Biaya Hidup Layak di Kaltim Kian Mahal
Kenaikan itu artinya biaya hidup minimum di Kaltim semakin mahal.
Warga harus mengeluarkan uang jauh lebih banyak dibanding tujuh tahun lalu hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti beras, lauk-pauk, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya, baik di kota maupun di desa.
Hidup layak di Kaltim kian berjarak dari kemampuan sebagian warga.
Jumlah Penduduk Miskin Kaltim Masih Ratusan Ribu Jiwa
Seiring naiknya standar minimum hidup, jumlah penduduk miskin juga ikut bertambah.
Pada Maret 2017, jumlah penduduk miskin di Kaltim tercatat 220,17 ribu jiwa.
Pandemi Covid-19 kemudian menjadi titik balik.
Pada September 2020, jumlahnya melonjak menjadi 243,99 ribu jiwa, tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Tren Penurunan Pasca Pandemi
Setelah pandemi mereda, tren perlahan berubah.
Maret 2023, jumlah penduduk miskin masih berada di angka 231,07 ribu jiwa.
Namun pada Maret 2024 turun menjadi 221,34 ribu jiwa, dan kembali menyusut pada September 2024 menjadi 211,88 ribu jiwa.
Penurunan ini terutama terjadi di wilayah perdesaan, di mana jumlah penduduk miskin berkurang dari 102,90 ribu jiwa menjadi 93,69 ribu jiwa hanya dalam waktu enam bulan.
Persentase Kemiskinan Kalimantan Timur Menurun
Dari sisi persentase, kemiskinan di Kaltim menunjukkan tren penurunan jangka panjang.
Pada Maret 2017, tingkat kemiskinan berada di angka 6,19 persen, dengan kesenjangan tajam antara kota (3,99 persen) dan desa (10,50 persen).
Pandemi kembali mendorong angka itu naik menjadi 6,64 persen pada September 2020.
Setelahnya, grafik perlahan menurun hingga mencapai 5,51 persen pada September 2024.
Desa Masih Jadi Kantong Kemiskinan Terbesar
Penurunan paling terasa terjadi di desa, dari 8,76 persen pada Maret 2024 menjadi 8,00 persen pada September 2024.
Di wilayah perkotaan, kemiskinan turun tipis dari 4,47 persen menjadi 4,41 persen.
Artinya, desa mulai keluar dari tekanan terberat, meski tetap menjadi kantong kemiskinan terbesar di Kaltim.
Peta Kemiskinan Antarwilayah di Kalimantan Timur

Secara wilayah, Kutai Kartanegara masih menjadi daerah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak pada 2024, yakni 59,00 ribu jiwa.
Disusul Kota Samarinda dengan 37,80 ribu jiwa dan Kutai Timur 37,11 ribu jiwa.
Di sisi lain, Mahakam Ulu mencatat jumlah penduduk miskin paling sedikit, hanya 2,90 ribu jiwa.
Namun secara persentase, daerah ini justru tertinggi, mencapai 10,75 persen.
Sebaliknya, Kota Balikpapan menjadi wilayah dengan tingkat kemiskinan terendah, yakni 2,23 persen.
(wan)




