Feature

Modal Nama dan Foto Lawas, Penza Rizky Temukan Ibu Kandung yang Terpisah 27 Tahun, Sempat Berpapasan di Samarinda Tanpa Saling Kenal

Foto: 27 TAHUN BARU BERTEMU - Kisah ibu dan anak yang terpisah selama 27 tahun akhirnya dipertemukan di kota Samarinda/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Selama sepuluh tahun tinggal di kota Samarinda, Penza Rizky menyimpan satu tujuan yang tak pernah ia ceritakan kepada banyak orang.

Bukan soal pekerjaan, bukan pula soal karier.

Pria berusia 28 tahun itu datang ke ibu kota Kaltim dengan satu misi mencari ibu kandungnya bernama, Ramlah Wulandari.

Mereka telah terpisah selama 27 tahun, sejak Penza masih berusia bayi sekitar 1 tahun.

Cerita perpisahan itu disampaikan Penza Rizky dan ibunya Ramlah Wulandari saat berbincang dengan redaksi Arusbawah.co di kediamannya, Senin (8/6/2026) malam.

Lanjut, pencarian itu akhirnya berakhir pada 2 Juni 2026.

Empat hari setelah mengunggah foto lama sang ibu ke media sosial Instagram pribadinya, Penza dan Ramlah bertemu di kawasan GOR Sempaja, Samarinda.

Pertemuan itu mengakhiri perpisahan ibu dan anak selama 27 tahun.

Sejak Kecil Penza Sudah Tahu Ada Sosok Ibu yang Tak Bersamanya

Penza lahir pada 1998.

Ia berpisah dengan ibunya pada 1999 saat usianya baru sekitar satu tahun tujuh bulan.

Sejak itu, ia dibesarkan oleh nenek dan keluarga dari pihak ayah di Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara).

Namun, sejak kecil ia sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Di rumah, beberapa perempuan dipanggil mama.

Tetapi berulang kali ia mendapat teguran.

"Itu bukan mamamu. Mamamu enggak ada di sini," begitu kalimat yang kerap ia dengar.

Ucapan itu justru menjadi pertanyaan yang tumbuh bersamanya sejak TK, SD, SMP hingga SMA.

Di lingkungan keluarga, Penza juga sering mendengar dirinya disebut bukan anak asli Tanjung Selor.

"Kamu orang Samarinda. Mamamu ada di sana," begitu kata-kata yang masih ia ingat.

Dari situlah keinginan untuk kuliah di Samarinda mulai tumbuh.

Bukan karena faktor pendidikan semata, tetapi karena kota itu menjadi satu-satunya petunjuk tentang keberadaan ibunya.

Modalnya sangat minim.

Ia hanya pernah melihat nama ibunya di akta kelahiran.

Tidak ada alamat. Tidak ada nomor telepon. Bahkan tak ada foto.

"Modal saya cuma nama," katanya.

Mencari Sang Ibu Diam-Diam Selama Tinggal di Samarinda

Selama tinggal di Samarinda sejak sekitar 2017, Penza menjalani kehidupan seperti biasa.

Ia merahasiakan pencarian itu dari banyak orang. Ia tak ingin dikasihani.

Ia bekerja, kuliah, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, bahkan sempat menjadi pengemudi ojek online.

Semua dilakukan sambil berharap suatu hari akan dipertemukan dengan ibunya.

Pada 2021 hingga 2022, Penza terlibat dalam program sosialisasi yang membuatnya mendatangi hampir 600 RT di Samarinda.

Setiap data warga yang masuk ia perhatikan.

"Siapa tahu ada nama mama," ujarnya.

Namun hasilnya nihil.

Pencarian juga dilakukan lewat jaringan pertemanan.

Tag

MORE