Arus Daerah

Misteri Pulau Borneo, Kumpulan Mitos di Berbagai Wilayah Kalimantan yang Masih Hidup hingga Kini

Kisah Kota Saranjana Masuk Daftar

Selasa, 7 Oktober 2025 8:34

MITOS - Potret Bundaran Simpang Empat Banjarbaru di Kalimantan Selatan dan Bundaran Besar Palangka Raya di Kalimantan Tengah (Foto: IST)

Anehnya, sesampainya di kawasan Padang 12, sang nenek menghilang begitu saja, dan yang tertinggal hanyalah kunyit emas di atas motornya.

2. Hantu Laot (Puake) di Sungai Kapuas

Kisah “hantu laut” yang oleh warga Pontianak dikenal dengan sebutan Puake digambarkan menyerupai naga raksasa yang mendiami perairan.

Menurut cerita turun-temurun, kemunculan Puake pertama kali terjadi sekitar tahun 1994 di Pontianak.

Kala itu, makhluk ini dipercaya menyeret beberapa anak dengan gelombang besar karena mereka dianggap bersikap tidak sopan saat berenang di laut.

Untuk menangkal kemunculan Puake, masyarakat setempat rutin menggelar ritual tahunan dengan erbagai sesaji seperti, buah-buahan, minyak, telur ayam kampung, nasi kuning, paku, hingga bedak dipersembahkan.

Bahkan, di beberapa daerah ada tradisi melepas seekor ayam hidup ke laut sebagai simbol penolak bala.

3. Kisah Batu Menangis

Legenda Batu Menangis dari Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Jabar, Kecamatan Ella Hilir, bercerita tentang seorang gadis cantik bernama Darmi yang hidup dalam kemanjaan hingga tumbuh menjadi sombong dan angkuh.

Ibunya, seorang janda pekerja keras, selalu berusaha memenuhi kebutuhan dengan bekerja di kebun dan pasar, sementara Darmi hanya sibuk merawat diri dan menolak membantu.

Suatu hari, ketika diminta untuk bekerja, ia justru menolak dengan kasar bahkan mempermalukan ibunya di depan banyak orang.

Karena kesombongan itu, Darmi pun dikutuk menjadi batu, tubuhnya perlahan membeku dari kaki hingga seluruh bagian, namun meski sudah membatu, air mata tetap mengalir sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Batu Menangis.

Batu tersebut akhirnya dipindahkan warga dan diarahkan ke langit sebagai bentuk penghormatan atas legenda tersebut.

Mitos-Mitos dari Kalimantan Tengah

1. Bayangan Badan Tak Boleh Tutupi Piring saat Makan Malam

Masyarakat Dayak Ngaju percaya pantangan ini dapat membawa celaka bagi yang melanggarnya.

Secara simbolis, bayangan yang menutupi piring dianggap sebagai pertanda “gelap” atau “tidak berkat,” karena waktu malam adalah saat energi negatif mulai muncul.

Dari sisi logika, larangan ini bisa dimaknai agar orang tidak makan terlalu malam karena dapat mengganggu pencernaan dan kesehatan tubuh.

2. Dilarang Buang Tulang Ikan atau Sisa Makanan di Malam Hari

Konon, tindakan ini dapat mengundang roh halus atau makhluk tak kasat mata yang tertarik dengan aroma makanan.

Namun di balik kepercayaan tersebut, tersimpan nilai kebersihan dan kewaspadaan.

Dahulu, rumah-rumah masih berdiri di tepi hutan atau sungai sehingga membuang sisa makanan di malam hari bisa memancing hewan liar datang.

3. Beli Jarum Malam Hari Dianggap Bawa Sial

Jarum dianggap benda tajam yang memiliki “energi” tersendiri.

Membelinya di malam hari dipercaya bisa membawa kesialan atau “menusuk” rezeki sendiri.

Secara makna simbolik, larangan ini mengajarkan agar aktivitas jual-beli dilakukan di waktu yang baik, serta agar orang tidak keluar rumah malam-malam tanpa alasan penting.

4. Pantangan Membawa Jajanan Tradisional, Apa Saja?

Di samping itu, ada pula sumber yang mengatakan untuk tidak membawa beberapa jenis jajanan (kue) tradisional ketika melakukann perjalanan jauh, khususnya pada malam hari.

Jika terpaksa membawa makanan tersebut, masyarakat percaya harus “berbagi” dengan makhluk penunggu jalan.

Caranya, sebagian makanan dilemparkan ke jalan sambil dalam hati mengucap, “Datuk kami berbagi kue lah, cucu jangan diganggu.”

Beberapa jenis jajanan (kue) tradisional ketika melakukann perjalanan jauh, khususnya pada malam hari tersebut ialah kue cucur, kue lupis, hingga lemang, yang mitosnya adalah makanan para penghuni ‘alam sebelah’.

5. Kutukan Bagi yang Tebang Pohon

Hutan adat ulin di Kalimantan Tengah dikenal dengan mitos kutukan bagi siapa pun yang berani menebang pohonnya.

Kawasan hutan adat ini terletak di Mungku Baru, Rakumpit, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah.

Menurut masyarakat setempat, warga Dayak Ngaju di Mungku Baru, kisah kutukan ini telah diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi bahwa siapa pun yang menebang pohon ulin akan tertimpa musibah, bahkan keluarganya bisa ikut kena bala.

Karena kepercayaan itu, pohon yang sempat ditebang biasanya dibiarkan hingga ditumbuhi lumut, tak ada yang berani menyentuhnya lagi.

Mitos ini mungkin terdengar menyeramkan, tapi justru berkat keyakinan masyarakat setempat, hutan adat ulin tetap lestari dan terasa liar sekaligus sakral.

Penutup

Itulah deretan mitos dan legenda dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Tengah yang terus hidup di tengah masyarakat hingga saat ini.

Meski sebagian mitos tampak mistis, kisah-kisah di Kalimantan tersebut sebenarnya sarat dengan nilai moral, penghormatan terhadap alam, serta pesan agar manusia selalu menjaga keseimbangan hidup.

(apr)

Tag

MORE