Menurutnya, angka itu menunjukkan bahwa semangat demokrasi belum benar-benar tumbuh dari kesadaran, melainkan masih bersifat formalitas.
“Tingginya partisipasi tak berarti apa-apa kalau tak dibarengi kesadaran. Kita perlu pemilih yang sadar, bukan hanya hadir di TPS lalu pulang tanpa tahu apa yang sedang dipertaruhkan,” tegasnya.
Melalui kegiatan seperti PDD, Darlis berharap dapat terbentuk ruang-ruang dialog yang sehat antara masyarakat dan wakil rakyat.
Baginya, pendekatan edukatif adalah kunci untuk membangun demokrasi yang inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada masa depan.
“Tugas DPRD bukan sekadar membuat regulasi, tapi juga membangun kesadaran kolektif soal pentingnya demokrasi. Ini bukan cuma soal politik, tapi tentang nasib dan kualitas hidup masyarakat ke depan,” pungkasnya.
PDD ke-5 ini menjadi salah satu upaya konkret untuk mendorong keterlibatan generasi muda sebagai mitra kritis dalam pembangunan daerah, demi menghadirkan demokrasi yang lebih hidup dan menyentuh akar rumput. (adv)
Tag



