Arus Publik

Merawat Alam dan Tradisi Lewat Tenun, Cerita Masyarakat Adat Iban Sadap

Kamis, 5 Februari 2026 22:20

Tari Pua’ Kumbu dari Sekolah Adat Temenggung Judan Menua Sungai Utik. Tari yang menggambarkan keindahan dari Pua’ Kumbu, jenis tenun sakral dalam tradisi Iban. Foto: dok. Endo Segadok

Bagi mereka, keberlanjutan budaya hanya mungkin jika alam tetap terjaga.

Rumah Panjang dan Regenerasi Penenun Muda

Tradisi menenun hidup subur di rumah panjang, pusat kehidupan sosial masyarakat Iban Sadap.

Di ruang bersama yang disebut ruai, perempuan dari berbagai usia menenun bersama, saling menguatkan dan memotivasi.

Aktivitas ini bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga tentang kebersamaan.

Regenerasi pun mulai terlihat. Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari, penenun muda yang tetap meluangkan waktu menenun di sela kesibukan bekerja.

“Kalau menenun ramai-ramai di ruai, rasanya seperti berlomba tapi saling menyemangati,” ujarnya.

Bagi komunitas Iban Sadap, kehadiran penenun muda menjadi harapan masa depan.

“Kalau semakin banyak anak muda terlibat, nilai wastra warisan leluhur akan tetap terjaga,” tegas Mala.

Festival Tenun Iban Sadap bukan sekadar perayaan budaya. Ia menjadi ruang perlawanan sunyi untuk menjaga identitas, alam, dan pengetahuan leluhur—dirajut perlahan, benang demi benang. (pra)

 

Tag

MORE