Arus Publik

Memanusiakan Manusia Lewat Lukisan, Seniman Kaltim Ini Lelang Karya untuk Korban Banjir Aceh dan Sumatera

Senin, 15 Desember 2025 19:53

MELUKIS - Perupa Kaltim Eko Handayani bersama lukisan yang dilelang/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO - Kemarahan Eko Handayani tidak ia luapkan dengan teriakan.

Perupa asal Kalimantan Timur (Kaltim) itu justru memilih marah diatas kanvas, kuas, kardus bekas, cat warna, potongan kayu, dedaunan dan biji kopi untuk bicara tentang banjir Aceh dan Sumatera yang belum juga pulih.

Eko melelang satu karyanya sebagai bentuk protes sekaligus bantuan bagi korban banjir di Aceh dan Sumatera yang sudah berlarut hampir tiga pekan.

Founder Kamar Kreatif itu menyebut, bencana yang menghantam Aceh dan Sumatera bukan hanya sekadar peristiwa alam.

Eko melihat ada keterlambatan negara, bantuan yang tak tertangani rapi, serta keputusan pemerintah yang tidak menetapkan sebagai bencana nasional.

Semua keresahan itu ia tuangkan ke dalam satu lukisan, lalu dilelang dan seluruh hasilnya didonasikan untuk para korban.

“Faktor pendorongnya dari kepedulian saya sebagai manusia dan sebagai seniman melihat kondisi saudara-saudara kita di Aceh yang terdampak begitu mengerikan. Saya ingin mengkritik lewat lukisan karena ketidakpedulian dan keterlambatan pemerintah membantu,” kata Eko saat berbincang dengan pewarta Arusbawah.co, pada Minggu (14/12/2025) malam.

Dilukis Lima Hari di Kedai Kopi, Dibuka dari Rp1 Juta

KARYA LUKISAN - Perupa Kaltim Eko Handayani bersama lukisan yang dilelang/Arusbawah.co

 

Lukisan itu dikerjakan Eko selama sekitar lima hari di sebuah kedai kopi bernama Kalijaga, yang berlokasi di Jalan Jakarta, Samarinda.

Karya tersebut dilelang dengan harga pembuka Rp1 juta, sementara penawaran awal dibuka dari Rp200 ribu.

“Seratus persen dana lelang ini tidak saya ambil. Tidak ada sedikit pun. Semua untuk bantuan korban banjir Aceh dan Sumatera,” ujarnya.

Saat ditemui, Eko terlihat tidak melukis diatas kanvas mahal melainkan menggunakan kardus bekas sebagai media utama.

Bagi dia, kardus itu sebagai simbol paling jujur dari situasi lapangan yang terjadi saat ini.

Kata Eko, kardus yang seharusnya menjadi wadah bantuan justru hancur karena bantuan dilempar dari helikopter.

“Kardus itu saya buat hancur karena miris. Bantuan sembako dilempar dari udara, padahal helikopternya bisa mendarat. Akhirnya beras rusak, obat rusak. Mungkin cuma sekitar 60 sampai 67 persen yang masih bisa dipakai, sisanya rusak,” katanya.

Ia mengaku heran melihat cara penyaluran bantuan yang menurutnya tidak sama sekali manusiawi.

“Saya lihat kok sampai segitunya. Kenapa harus dilempar seperti binatang, padahal bisa diturunkan dengan layak,” ucapnya.

 

Kardus Hancur, Kayu Hanyut, dan Kopi Gayo

Di atas kardus hancur itu, Eko menempelkan potongan kayu jambu, ranting, daun, dan biji kopi.

Setiap elemen itu punya cerita yang saling terhubung dengan bencana di 3 daerah itu.

Kayu-kayu kering menggambarkan batang besar yang hanyut dari pegunungan dan menghantam rumah warga.

“Itu menceritakan kayu yang larut dari gunung-gunung. Artinya ada kerusakan hutan. Itu sebabnya batang besar bisa turun dan menewaskan banyak orang,” ujarnya.

Biji kopi ditempel menggantikan air.

Aceh, kata Eko, identik dengan kopi Gayo.

Air banjir ia visualkan dalam bentuk biji kopi untuk menegaskan bahwa wilayah aceh yang subur itu kini tenggelam.

“Harusnya lukisan ini pakai air. Tapi saya ganti dengan biji kopi. Unsurnya tetap air, tapi air yang merusak kehidupan kopi itu sendiri,” katanya.

Di sisi kiri lukisan, daun-daun utuh menggambarkan Aceh yang dulu hijau dan subur.

Alam, manusia, dan pertanian berjalan seimbang.

Di sisi kanan, ranting patah dan bekas potongan gergaji menunjukkan kehancuran hutan dan deforestasi.

Kritik Negara dalam Lukisan

Eko secara terbuka memasukkan kritik di dalam lukisan itu terhadap pemerintah.

Ia menyebut keterlambatan penanganan dan keputusan tidak menetapkan bencana nasional sebagai bentuk ketidakbecusan pemerintah.

“Ada tulisan bantuan pemerintah di batang kayu. Kita tahu sendiri pemainnya siapa. Kenapa bencana ini tidak jadi bencana nasional. Ternyata ada permainan dengan oligarki, penebangan hutan, sawit. Itu saya simbolkan dengan ranting terpotong mesin chainsaw,” katanya.

Politik, bagi Eko, tidak bisa dipisahkan dari bencana.

Bahkan hujan pun ia ganti menjadi elemen hujan ranting, bukan hujan air.

Anak Kecil, Rumah Negara, dan Tikus Berdasi

Sosok utama dalam lukisan adalah seorang anak kecil dengan kepala terbungkus plastik.

Di dalam plastik itu terdapat tanah dan rumput.

“Situasi nyaman hidup di Aceh itu sekarang cuma ada di pikiran. Kampung yang dulu asri hanya jadi memori atau mimpi yang diikat plastik,” ujarnya.

Bagian bawah tubuh anak digambar compang-camping, dengan tali melilit perut.

“Itu menggambarkan lapar dan ketidakadilan. Bukan cuma sekarang, sebelum bencana pun mereka sudah kasihan karena ketimpangan dan korupsi,” kata Eko.

Rumah berwarna merah putih di bawah tubuh anak menjadi simbol negara.

Anak itu duduk di luar, sementara di dalam rumah digambarkan tikus-tikus berdasi yang menguasai.

“Negara saya lambangkan rumah. Mereka di luar karena di dalam rumah dikuasai tikus,” ujarnya.

Respon Publik dan Pesan Kemanusiaan

Respons publik, menurut Eko, cukup banyak.

Dalam tiga hari terakhir pelelangan, banyak orang datang bertanya dan mencoba memahami isi lukisan tersebut.

Ia berharap pembeli tidak melihat lukisan itu sebagai barang seni semata.

“Jangan lihat karyanya. Tapi lihat bagaimana Anda bergerak membantu sesama manusia,” katanya.

Bagi Eko, arti lukisan itu sederhana tapi memiliki arti yang luas.

“Memanusiakan manusia. Manusia dengan alam. Manusia dengan manusia.” pungkasnya.

(wan)

 

Tag

MORE