Sidik menjelaskan, lomba dalam suasana Pesantren Ramadan menjadi ruang strategis untuk menemukan bibit-bibit potensial.
Dari 20 peserta lomba azan, terdapat sekitar enam siswa dengan bakat menonjol, meski sebagian besar masih membutuhkan pembinaan lanjutan karena jam terbang dan kepercayaan diri yang belum terbentuk.
“Masalahnya bukan pada kemampuan dasar, tapi pada jam terbang dan kepercayaan diri. Bahkan tadi kami dengar, untuk azan di sekolah saja masih saling dorong. Artinya mereka belum pede. Padahal kalau sudah percaya diri, biasanya justru berebut ingin tampil,” tambahnya.
Mendorong Pembinaan Berkelanjutan dan Jalur MTQ
Kepercayaan diri menjadi kunci utama, terutama di cabang azan dan tilawah yang menuntut mental tampil di depan publik.
Selain memberi penilaian, LPTQ mendorong pembinaan lanjutan di luar lomba.
Tag



