Didukung Pemerintah, Jadi Harapan Baru Konservasi
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyambut positif inovasi tersebut.
Ia menilai, pendekatan kreatif seperti ini menjadi kunci dalam menjaga kualitas rehabilitasi satwa, bahkan di momen hari besar seperti Idulfitri.
“Ketupat ini bukan sekadar kemasan unik, tapi alat problem solving yang efektif. Satwa dipicu untuk menggunakan kreativitas fisik dan indra penciuman mereka,” ujarnya.
Menurutnya, metode ini merupakan simulasi nyata tantangan di alam liar, di mana makanan tidak tersedia begitu saja, melainkan harus dicari dan diperjuangkan.
“Kupatan” Jadi Simbol Kepulangan ke Alam
Lebaran dengan konsep “kupatan” bagi orangutan ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol harapan.
Setiap aktivitas sederhana yang mereka jalani di pusat rehabilitasi adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kebebasan di habitat aslinya.
Sinergi antara BKSDA, CAN, dan COP pun dinilai menjadi fondasi penting dalam keberhasilan konservasi orangutan di Kalimantan Timur.
Di balik anyaman ketupat itu, tersimpan harapan besar: suatu hari nanti, mereka kembali menjadi penguasa rimba yang mandiri. (pra)
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co
Tag




