ARUSBAWAH.CO - Perayaan Idulfitri di Kalimantan Timur tak hanya dirasakan manusia.
Di tengah hutan rehabilitasi, momen Lebaran justru menjadi bagian penting dari proses belajar satwa liar untuk kembali ke habitat aslinya.
Dua pusat rehabilitasi satwa di Kabupaten Berau menghadirkan cara unik dalam memberi makan, yakni dengan konsep “ketupat Lebaran” sebagai media pengayaan perilaku (enrichment).
Ketupat Jadi Media Latihan Orangutan
Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, yang dikelola Conservation Action Network (CAN), para animal keeper menyajikan makanan satwa dalam balutan ketupat.
Empat bayi orangutan yang tengah menjalani rehabilitasi tampak antusias.
Ketupat-ketupat tersebut digantung di area playground, memaksa mereka memanjat, bergelantungan, dan “memetik” makanan seperti di alam liar.
Metode serupa juga diterapkan pada satwa lain seperti owa, dengan ketupat diikat di dahan yang dipenuhi dedaunan untuk merangsang insting alaminya.
Sementara itu, di pusat rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP), pendekatan yang sama dilakukan saat orangutan mengikuti “sekolah hutan”.
Di sana, satwa endemik Kalimantan ini harus berusaha meraih, membuka, dan mengakses isi ketupat yang berisi buah, madu, hingga selai.

Bukan Sekadar Makan, Tapi Simulasi Bertahan Hidup
Founder dan Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menegaskan bahwa metode ini bukan sekadar gimmick Lebaran.
Tag



