Menurutnya, ketupat justru menjadi alat penting untuk melatih kemampuan fisik dan kognitif orangutan.
“Kami ingin mereka tetap aktif bergerak, memanjat, dan menggunakan koordinasi tubuh untuk meraih makanan. Ini simulasi nyata bagaimana mereka harus berkompetisi mendapatkan buah di pucuk pohon,” ujarnya.
Tak hanya fisik, proses membuka anyaman ketupat juga melatih kesabaran dan ketangkasan.
“Yang kami lihat, mereka tidak sekadar makan, tapi benar-benar ‘berburu’. Setiap tantangan yang mereka lewati adalah langkah menuju kemandirian di alam liar,” tambahnya.
Mengasah Insting Lewat Kreativitas Sederhana
Manajer BORA, Widi Nursanti, menjelaskan bahwa enrichment bertujuan membuat satwa tetap aktif secara mental dan fisik.
Menurutnya, variasi sederhana dalam penyajian makanan bisa berdampak besar pada proses rehabilitasi.
“Enrichment itu membuat mereka sibuk, berpikir, dan mencari cara untuk makan. Ketupat ini jadi media problem solving sekaligus melatih perilaku alami,” jelasnya.
Ia menambahkan, isi ketupat berupa buah, madu, dan selai juga dirancang untuk merangsang indra penciuman serta kreativitas satwa.
“Selain menghindari kejenuhan, ini juga membantu mereka menikmati proses belajar dengan cara yang alami,” katanya.

Tag




