Arus Publik

Konten Peduli Satwa

Lebaran Unik di Kaltim: Orangutan “Berburu” Ketupat Demi Kembali ke Alam Liar

Rabu, 25 Maret 2026 17:12

Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, yang dikelola Conservation Action Network (CAN), para animal keeper menyajikan makanan satwa dalam balutan ketupat/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Perayaan Idulfitri di Kalimantan Timur tak hanya dirasakan manusia.

Di tengah hutan rehabilitasi, momen Lebaran justru menjadi bagian penting dari proses belajar satwa liar untuk kembali ke habitat aslinya.

Dua pusat rehabilitasi satwa di Kabupaten Berau menghadirkan cara unik dalam memberi makan, yakni dengan konsep “ketupat Lebaran” sebagai media pengayaan perilaku (enrichment).

Ketupat Jadi Media Latihan Orangutan

Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, yang dikelola Conservation Action Network (CAN), para animal keeper menyajikan makanan satwa dalam balutan ketupat.

Empat bayi orangutan yang tengah menjalani rehabilitasi tampak antusias.

Ketupat-ketupat tersebut digantung di area playground, memaksa mereka memanjat, bergelantungan, dan “memetik” makanan seperti di alam liar.

Metode serupa juga diterapkan pada satwa lain seperti owa, dengan ketupat diikat di dahan yang dipenuhi dedaunan untuk merangsang insting alaminya.

Sementara itu, di pusat rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP), pendekatan yang sama dilakukan saat orangutan mengikuti “sekolah hutan”.

Di sana, satwa endemik Kalimantan ini harus berusaha meraih, membuka, dan mengakses isi ketupat yang berisi buah, madu, hingga selai.

Founder dan Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menegaskan bahwa metode ini bukan sekadar gimmick Lebaran. Menurutnya, ketupat justru menjadi alat penting untuk melatih kemampuan fisik dan kognitif orangutan/ HO to Arusbawah.co

 

Bukan Sekadar Makan, Tapi Simulasi Bertahan Hidup

Founder dan Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menegaskan bahwa metode ini bukan sekadar gimmick Lebaran.

Menurutnya, ketupat justru menjadi alat penting untuk melatih kemampuan fisik dan kognitif orangutan.

“Kami ingin mereka tetap aktif bergerak, memanjat, dan menggunakan koordinasi tubuh untuk meraih makanan. Ini simulasi nyata bagaimana mereka harus berkompetisi mendapatkan buah di pucuk pohon,” ujarnya.

Tak hanya fisik, proses membuka anyaman ketupat juga melatih kesabaran dan ketangkasan.

“Yang kami lihat, mereka tidak sekadar makan, tapi benar-benar ‘berburu’. Setiap tantangan yang mereka lewati adalah langkah menuju kemandirian di alam liar,” tambahnya.

 

Mengasah Insting Lewat Kreativitas Sederhana

Manajer BORA, Widi Nursanti, menjelaskan bahwa enrichment bertujuan membuat satwa tetap aktif secara mental dan fisik.

Menurutnya, variasi sederhana dalam penyajian makanan bisa berdampak besar pada proses rehabilitasi.

“Enrichment itu membuat mereka sibuk, berpikir, dan mencari cara untuk makan. Ketupat ini jadi media problem solving sekaligus melatih perilaku alami,” jelasnya.

Ia menambahkan, isi ketupat berupa buah, madu, dan selai juga dirancang untuk merangsang indra penciuman serta kreativitas satwa.

“Selain menghindari kejenuhan, ini juga membantu mereka menikmati proses belajar dengan cara yang alami,” katanya.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyambut positif inovasi tersebut. Ia menilai, pendekatan kreatif seperti ini menjadi kunci dalam menjaga kualitas rehabilitasi satwa, bahkan di momen hari besar seperti Idulfitri/ HO to Arusbawah.co

 

Didukung Pemerintah, Jadi Harapan Baru Konservasi

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyambut positif inovasi tersebut.

Ia menilai, pendekatan kreatif seperti ini menjadi kunci dalam menjaga kualitas rehabilitasi satwa, bahkan di momen hari besar seperti Idulfitri.

“Ketupat ini bukan sekadar kemasan unik, tapi alat problem solving yang efektif. Satwa dipicu untuk menggunakan kreativitas fisik dan indra penciuman mereka,” ujarnya.

Menurutnya, metode ini merupakan simulasi nyata tantangan di alam liar, di mana makanan tidak tersedia begitu saja, melainkan harus dicari dan diperjuangkan.

“Kupatan” Jadi Simbol Kepulangan ke Alam

Lebaran dengan konsep “kupatan” bagi orangutan ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol harapan.

Setiap aktivitas sederhana yang mereka jalani di pusat rehabilitasi adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kebebasan di habitat aslinya.

Sinergi antara BKSDA, CAN, dan COP pun dinilai menjadi fondasi penting dalam keberhasilan konservasi orangutan di Kalimantan Timur.

Di balik anyaman ketupat itu, tersimpan harapan besar: suatu hari nanti, mereka kembali menjadi penguasa rimba yang mandiri. (pra)

Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co 

 

Tag

MORE