ARUSBAWAH.CO - Laporan CELIOS Republik Oligarki: Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 menempatkan pengemudi ojek online (ojol) dan buruh harian sebagai wajah paling nyata dari ketimpangan ekonomi modern di Indonesia.
Meski menjadi penopang utama perekonomian sehari-hari masyarakat, kedua kelompok ini justru menjadi korban sistem yang terus menguntungkan segelintir oligarki.
Dalam bagian pengantar laporan, CELIOS secara khusus mendedikasikan studi ini untuk buruh harian yang baru dibayar jika ada pekerjaan, pengemudi online yang harus menunggu order berjam-jam.
Mereka adalah kelompok bekerja tanpa kepastian dan minim perlindungan di tengah semakin dalamnya jurang ketimpangan.
Realitas Pahit Ojol dan Buruh Harian
Menurut CELIOS, ojol dan buruh harian mendominasi sektor informal yang rentan.
Pengemudi ojol harus menanggung sendiri biaya operasional seperti bensin, perawatan kendaraan, dan kuota internet, sementara penghasilan mereka sangat fluktuatif tergantung order.
Banyak di antara mereka adalah generasi muda yang gagal masuk ke sektor formal karena lapangan kerja berkualitas yang semakin sempit.
Sementara itu, buruh harian hanya dibayar ketika ada pekerjaan.
Mereka tidak memiliki kontrak tetap, jaminan sosial, cuti, maupun tunjangan kesehatan yang memadai.
Laporan ini menekankan bahwa pekerja informal seperti mereka terus bertambah jumlahnya, sementara akses terhadap perlindungan sosial tetap terbatas.
Kontras yang paling mencolok diungkap dalam temuan utama CELIOS yaitu harta oligarki naik Rp13 miliar per hari, sedangkan upah pekerja hanya naik Rp2 ribu per hari.
Kesenjangan ini semakin memperburuk kondisi ojol dan buruh harian, yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar di tengah biaya hidup yang terus meningkat.
- Laporan CELIOS: Beban Utang Negara Setara Rp33,8 Juta per Warga, Generasi Produktif Dinilai Terdampak
- Studi CELIOS: Sumber Daya Alam Dikeruk, Daerah Penghasil Dinilai Belum Menikmati Hasil Kekayaannya
- Laporan CELIOS: Kursi Parlemen Dikuasai Oligarki Politik, Gen Z Harus Jobless 7,5 Bulan untuk Dapat Kerja
Sistem Oligarki yang Memperparah Penderitaan
CELIOS menjelaskan bahwa ketimpangan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil sistem oligarki yang sistematis.
Kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia, yang sebagian besar berasal dari sektor ekstraktif (58%), terus melonjak, sementara pekerja informal seperti ojol dan buruh harian hanya menjadi penyangga ekonomi tanpa menikmati hasil pertumbuhan.
Laporan CELIOS juga menunjukkan potensi solusi melalui pajak kekayaan.
Jika dikenakan pajak kekayaan 2% pada 50 orang terkaya, negara bisa mendapatkan Rp93 triliun.
Dana tersebut antara lain dapat memberikan subsidi perawatan kendaraan selama setahun bagi seluruh pengemudi ojek online di Indonesia (13,3 juta penerima manfaat).
Namun, tanpa reformasi struktural, ojol dan buruh harian akan terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
Dominasi oligarki politik dan ekonomi membuat kebijakan cenderung lebih melindungi elite dan platform besar daripada pekerja di lapangan.
CELIOS merekomendasikan reformasi fiskal progresif, penguatan perlindungan sosial bagi pekerja informal, serta kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok rentan.
Tanpa perubahan berani, pengemudi ojol dan buruh harian akan terus menjadi korban utama dari “Republik Oligarki” yang hanya menguntungkan segelintir orang.
Laporan ini menjadi pengingat bahwa ketimpangan bukan takdir, melainkan hasil akumulasi sistemik yang harus segera diperbaiki agar usaha rakyat kecil tetap sepadan dengan hasilnya. (jay)




