ARUSBAWAH.CO - Program rumah subsidi yang digadang-gadang pemerintah sebagai solusi kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ternyata masih jauh dari harapan.
Laporan CELIOS Republik Oligarki: Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 mengungkap bahwa rumah subsidi tetap sulit dijangkau, terutama oleh generasi muda di tengah ketimpangan ekonomi yang semakin dalam.
Meski harga rumah subsidi berada di kisaran Rp166 juta hingga Rp185 juta dengan DP rendah (1-5%) dan bunga sekitar 5%, realitas di lapangan menunjukkan beban cicilan yang sangat memberatkan.
Cicilan yang Memberatkan Generasi Muda
Menurut analisis CELIOS, cicilan rumah subsidi rata-rata menyerap 31–35% dari pendapatan bulanan berbasis Upah Minimum Regional (UMR).
Di beberapa daerah, angka tersebut bahkan mencapai 48% dari gaji UMR sebesar Rp2,4 juta, seperti di Yogyakarta.
Bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja dengan pendapatan pas-pasan, kondisi ini membuat impian memiliki rumah pertama nyaris mustahil tanpa bantuan orang tua.
Tingginya harga tanah yang terus melonjak akibat spekulasi dan penguasaan segelintir elite semakin memperburuk situasi.
Tag



