ARUSBAWAH.CO - Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi masalah serius dalam pemenuhan tenaga dokter spesialis, terutama di daerah terpencil seperti Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu).
Meski pemerintah provinsi sudah menyiapkan gaji tinggi hingga Rp70 juta per bulan, nyatanya minat dokter untuk bertugas di dua daerah itu tetap minim.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (2/10/2025), menjelaskan bahwa hingga kini hanya ada 14 dokter spesialis yang berhasil direkrut di Kaltim.
Dari jumlah itu, 10 dokter ditempatkan di Samarinda, dua di Kutim, dan dua di Kutai Barat.
Sedangkan Mahulu, sampai sekarang belum ada satupun dokter spesialis yang bersedia masuk.
“Standar gaji dokter spesialis kita sekarang Rp24,6 juta per bulan. Itu masih standar. Kalau hitungan kita bisa sampai Rp70 juta per bulan di luar rumah (dinas). Tapi tetap saja masih susah juga,” kata Jaya kepada redaksi Arusbawah.co.
Distribusi Dokter Spesialis Tidak Merata
Para dokter spesialis yang sudah masuk terdiri dari spesialis penyakit dalam, anestesi, anak, kandungan (obgyn), bedah, dan konsultan jiwa.
Kendati begitu, distribusinya tidak merata.
Sebagian besar terkonsentrasi di Samarinda, sementara kabupaten lain masih kesulitan.
Menurut Jaya, Pemprov Kaltim sudah menyiapkan anggaran Rp16,8 miliar untuk program dokter spesialis ini.
Namun, baru sekitar Rp5 miliar yang terserap.
“Pak Gubernur sudah tanda tangan, 10 dokter kita ambil dari Samarinda, dua di Kutim, dua di Kubar. Mahulu belum ada yang mau masuk. Jadi nanti 10 dari Samarinda ini akan kita minta visit ke Mahulu sebulan sekali,” jelasnya.
Solusi Sementara: Skema Kunjungan Bulanan
Skema kunjungan bulanan ini dijadikan solusi sementara untuk Mahulu, yang sama sekali tidak memiliki dokter spesialis tetap.
“Kan sudah dibayar sama kita, jadi harus mau kunjungan. Itu wajib. Kalau menunggu ada yang mau menetap, sepertinya enggak ada,” tegas Jaya.
Jaya mengakui, masalah utama bukan hanya soal gaji.
Tag



