ARUSBAWAH.CO - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memproyeksikan adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas bahan pokok.
Meski demikian, ketersediaan stok dipastikan dalam kondisi aman dan distribusi tidak mengalami kendala berarti.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan tren kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan merupakan fenomena yang terjadi setiap tahun.
Komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan antara lain daging sapi, cabai, dan bawang merah.
“Memang ada beberapa komoditas yang diproyeksi mengalami kenaikan harga. Itu biasanya terjadi setiap tahun, terutama untuk daging sapi, cabai, dan bawang merah yang cenderung naik,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (17/3/2026).
Menurut Heni, salah satu faktor utama penyebab kenaikan harga adalah ketergantungan Kalimantan Timur terhadap pasokan dari luar daerah.
Ia menyebut sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan bahan pokok di Kaltim masih didatangkan dari luar wilayah.
“Karena kita bukan daerah penghasil, jadi sebagian besar kebutuhan bahan pokok masih disuplai dari luar Kaltim,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan kondisi stok bahan pokok tetap aman hingga Idul Fitri.
Tidak ada hambatan distribusi maupun gangguan lain yang dapat mempengaruhi ketersediaan barang di pasaran.
“Secara keseluruhan stok kita aman. Tidak ada kendala distribusi, tidak ada hambatan yang mempengaruhi stok. Insyaallah sampai Idul Fitri tetap aman,” tegasnya.
Terkait besaran kenaikan harga, Heni menyebut angkanya relatif kecil, yakni berada di kisaran 3 hingga 5 persen dari harga normal.
“Relatif sekitar 3 sampai 5 persen dari harga normal,” tambahnya.
Ketergantungan Pasokan Luar Daerah
Lebih lanjut, Heni memaparkan asal pasokan sejumlah komoditas utama yang masuk ke Kalimantan Timur.
Untuk daging sapi, pasokan umumnya berasal dari Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat (NTB), sementara cabai didatangkan dari berbagai daerah seperti Jawa, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.
“Kalau sapi dari Sulawesi Selatan, kemudian ada dari NTB. Kalau cabai dari Jawa, dari Sulawesi Selatan, juga dari Sulawesi Barat,” ungkapnya.
Ketergantungan terhadap daerah pemasok ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas harga di Kaltim.
“Karena kita bukan daerah penghasil, jadi sekitar 70 sampai 80 persen kebutuhan bahan pokok kita masih disuplai dari luar Kaltim. Itu yang menyebabkan kenaikan harga.”
Dorong Kemandirian Pangan Lewat Program Ternak dan Budidaya Cabai
Sebagai upaya jangka panjang, pemerintah terus mendorong kemandirian pangan daerah melalui berbagai program strategis.
Salah satunya adalah penguatan sektor peternakan melalui program Desa Korporasi Ternak.
“Program ini untuk membangun kemandirian daging sapi, dengan menggabungkan peternak dan meningkatkan kapasitas mereka, mulai dari budidaya sampai pascapanen,” jelas Heni.
Selain itu, pengembangan komoditas cabai juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kalimantan Timur turut mendorong berbagai program pengendalian inflasi berbasis produksi lokal.
“Kami juga dorong budidaya cabai, baik di pekarangan rumah masyarakat maupun di lahan pertanian yang ada di Kalimantan Timur,” pungkasnya. (raf)




