Menurutnya, banyak warga yang memiliki kenangan di tempat tersebut, mulai dari berbelanja, berkumpul bersama keluarga, hingga menikmati berbagai hiburan yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat.
Karena itu, menurut Firnadi, saat ini eksekutif dan legislatif harus bisa saling bahu membahu membangkitkan kembali optimisme bahwa Mal Lembuswana dapat hidup kembali.
"Ini menumbuhkan optimisme dan mungkin mengundang pemikiran para pihak bahwa aset ini bernilai sosial, ekonomi, sejarah, dan harapan lain sehingga para penawar memberikan prospektus terbaik untuk lokasi seluas 6,7 hektare ini," jelasnya.
Optimistis Mal Lembuswana Kembali Jadi Penggerak Ekonomi
Firnadi yang merupakan Ketua Fraksi PKS DPRD Kaltim itu optimistis Mal Lembuswana masih memiliki masa depan yang cerah.
Dengan konsep pengembangan yang tepat, pengelolaan profesional, serta kolaborasi bersama investor strategis, ia meyakini pusat perbelanjaan yang pernah menjadi ikon modernitas Samarinda itu dapat kembali menjadi salah satu penggerak ekonomi Kalimantan Timur.
"Momentum berakhirnya kerja sama BOT ini menjadi kesempatan berharga bagi Pemprov Kaltim untuk menghadirkan kembali Mal Lembuswana yang lebih modern, lebih kompetitif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa depan," ucapnya.
Ia kemudian memberikan saran dalam proses ke depan, agar Pemprov melalui PT KTMBS bisa menggandeng tenant-tenant yang saat ini masih beroperasi di Mal Lembuswana.
Hal yang ia tekankan adalah soal perpanjangan kontrak.
"Untuk tenant yang ada sekarang sudah semestinya mendapatkan kejelasan mekanisme perpanjangan kontrak dan pola pengelolaan ke depan agar aktivitas usaha tetap berjalan dengan baik. Kepastian ini penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha sekaligus mempertahankan denyut ekonomi Mal Lembuswana," pungkasnya.




