ARUSBAWAH.CO - Enam hal dalam program Probebaya dinilai masih perlu dibenahi.
Hal itu disampaikan Iswandi, Ketua DPC PDI Perjuangan Samarinda, dalam diskusi publik bertajuk "Probebaya Tanpa AH, Bisa?" yang digelar pada 15 Februari 2026 di Samarinda.
Ia menegaskan, pembenahan tersebut penting agar siapapun wali kota yang terpilih nanti sudah memiliki arah kebijakan yang jelas dalam menjalankan program tersebut.
Dalam forum tersebut, Iswandi menyampaikan bahwa program berbasis RT itu memiliki potensi besar untuk memperkuat pembangunan di tingkat paling bawah.
Namun, menurutnya, penguatan sistem menjadi kunci agar program tidak sekadar berjalan sebagai rutinitas anggaran.
Penguatan Akuntabilitas dan Perubahan Fokus
“Yang pertama kita harus memperkuat akuntabilitas, ini menurut saya masalah yang paling krusial mengapa.
Saat ini masalah pada RT masih fokus pada penyerapan dana, belum pada hasil,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini ukuran keberhasilan seringkali hanya dilihat dari terserapnya anggaran, bukan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, perubahan orientasi dinilai mendesak untuk dilakukan.
“Yang kedua mengubah fokus dari belanja menjadi dampak.
Selama ini fokus belanja buat apa, tapi jarang dipikirkan dampaknya apa. Makanya menurut saya kalau sudah dibelanjakan harus berdampak,” tegasnya.
Menurut Iswandi, setiap rupiah yang dikeluarkan harus dapat diukur manfaatnya, terutama bagi masyarakat di tingkat RT.
Peningkatan Kapasitas dan Integrasi Program
Selain soal orientasi program, Iswandi juga menyoroti kapasitas dan kompetensi ketua RT sebagai pelaksana di lapangan.
Ia mengakui masih terdapat RT yang belum memiliki visi pembangunan yang jelas, sehingga penggunaan anggaran berpotensi tidak efektif.
Tag



