“Enggak masalah. Semua itu soal rezeki. Walaupun bekas Direktur Pertamina sekalipun, belum tentu berhasil di MMPKT. Ini bukan soal riwayat jabatan, tapi soal pemahaman lapangan dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kompleksitas daerah,” ucapnya.
Edy menekankan, MMPKT bukan hanya perusahaan penerima PI.
Ia menyebut perusahaan harus terus berinovasi dan mengembangkan usaha agar tidak terus bergantung pada PI.
Ia menyebut beberapa rencana seperti masuk ke bisnis pengelolaan limbah dan produksi biodiesel B40.
Modal Jadi Kunci Pertumbuhan MMPKT
Meski inovasi dan sistem telah berjalan, Edy menyatakan bahwa MMPKT tetap memerlukan dukungan penyertaan modal dari Pemprov Kaltim agar bisa berkembang.
“Tanpa tambahan modal, kita akan kesulitan. Untuk membangun proyek-proyek baru seperti pengolahan limbah atau biodiesel, kita butuh dana. Ini untuk mendorong pendapatan di luar PI dan tentu saja menambah dividen ke kas daerah,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Edy menegaskan MMPKT saat ini adalah perusahaan migas daerah yang sehat.
Namun, masa depan perusahaan sangat bergantung pada dukungan pemegang saham.
“Kami sudah meletakkan pondasi. Siapapun yang nanti terpilih, saya harap bisa melanjutkan. Tapi kalau diberi kesempatan, saya siap menyelesaikan ini. Satu hingga dua tahun saja,” tutup Edy.
(wan)
Tag




