“Secara nasional 35 orang tenaga gizi ini melayani 100.000 penduduk Kaltim,” terang Ananda.
Saat ini, kata Ananda, jumlah ahli gizi di Kaltim baru mencapai 503 orang, sementara populasi daerah tersebut telah melampaui 4 juta jiwa pada 2024.
Dengan jumlah itu, menurutnya, rasio tenaga gizi masih jauh dari mencukupi.
“Artinya 100.000 jiwa penduduk yang harusnya ditangani 35 orang tenaga ahli gizi, di Kaltim malah ditangani hanya sekitar 13 orang saja,” ucap Ananda.
Ia menjelaskan bahwa penambahan tenaga gizi sangat penting agar layanan gizi di masyarakat berjalan lebih optimal, terutama untuk mendukung percepatan penanganan stunting.
Kekurangan tenaga gizi di berbagai fasilitas kesehatan dan Posyandu membuat proses pemantauan pertumbuhan anak tidak berjalan maksimal.
“Sehingga pemantauan tumbuh kembang tidak intensif dan cakupan intervensi spesifik lebih rendah,” pungkas Ananda.
Tag



