“Pemerintah harus terjun langsung ke lapangan. Program pemberdayaan harus adaptif, berbasis kebutuhan nyata, dan dirancang untuk memberi efek jangka panjang,” tegasnya.
Ayub juga menyoroti pentingnya penyediaan sarana produktif, mulai dari bibit unggul untuk petani dan nelayan, hingga pelatihan teknis yang sesuai dengan tantangan lokal yang dihadapi para pelaku usaha.
Baginya, menciptakan ekosistem usaha yang sehat adalah kunci lahirnya wirausaha lokal yang tangguh dan kompetitif.
Jika ini terwujud, Kaltim bisa secara perlahan mengurangi ketergantungan terhadap sektor-sektor besar, seperti pertambangan dan migas, yang selama ini mendominasi ekonomi daerah.
“Kalau kita ingin Kaltim tumbuh berkelanjutan, pondasinya harus kuat, dimulai dari sektor riil yang bersentuhan langsung dengan rakyat,” ujarnya.
Ayub optimistis, dengan kolaborasi erat antara pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, UMKM bisa menjadi ujung tombak ekonomi lokal yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing di masa depan. (adv)
Tag



