Selain memotret perjalanan panjang sawit, buku ini juga membahas tantangan nyata, mulai dari produktivitas yang menurun, luasnya kebun tua, hingga peluang baru dari program B50, energi terbarukan, dan potensi Pelabuhan Maloy sebagai pusat CPO Asia Pasifik.
Selain membahas substansi buku, rapat juga merumuskan garis besar acara “Sawit Dialog 2025” yang akan digelar bulan ini.
Dialog tersebut ditujukan untuk mengupas refleksi kebijakan sawit berkelanjutan, memperluas pemanfaatan buku sebagai rujukan akademik, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor menghadapi isu ketahanan pangan, energi hijau, dan tantangan global.
Rapat dihadiri Pejabat Eselon III Disbun Kaltim serta Dewan Pakar FKPB yang memberikan masukan strategis.
Menutup pertemuan, Asmirilda berharap peluncuran buku dan forum dialog bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk memperkuat kebijakan berbasis data dan membangun kolaborasi.
“Sawit bukan hanya soal ekspor dan devisa. Ini tentang masa depan, kedaulatan pangan, energi, dan lingkungan yang berkelanjutan. Kaltim harus hadir dengan narasi baru, sawit yang cerdas, adil, dan lestari,” pungkasnya. (adv)
Tag



