Bentuk informal inilah yang dinilai Beni Sianturi paling dekat dengan kehidupan warga desa.
“Anak belajar bukan hanya dari buku. Ia belajar dari bagaimana orang tuanya menyapa tetangga, dari bagaimana desa menjaga tradisi,” tuturnya.
Harapan dari Warga dan Legislator
Sosperda ini ditutup dengan sesi tanya jawab. Beberapa warga meminta agar kegiatan semacam ini lebih sering digelar dan melibatkan kelompok pemuda serta forum warga.
Didik Agung sendiri berharap Perda ini benar-benar dirasakan manfaatnya.
“Tidak cukup hanya disosialisasikan. Kita ingin nilai-nilai itu kembali jadi napas keseharian warga Kaltim,” tegasnya.
Dengan pendekatan yang lebih membumi—melalui budaya, keluarga, dan ruang sosial warga—Perda Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan diharapkan benar-benar hidup, bukan sekadar tertulis di lembaran daerah. (adv)
Tag



