Margin ini mencerminkan nilai tambah dari proses hilirisasi, sekaligus menjadi indikator penting dalam pengendalian harga pangan berbasis sawit di dalam negeri.
Baca juga:
- Eni Dapat Perpanjangan Izin 20 Tahun untuk Blok Ganal & Rapak, Ayub: Skema PI Kaltim Harus Jelas 2026
- Sungai Kelai–Segah Kian Dangkal: Kadis ESDM Sebut ‘Bisa Main Bola Saat Surut’
- “Korupsi Tambang Bukan Cuma Merugikan Negara, Tapi Rampas Hidup Warga": Jatam Ingatkan Lagi Luka di Balik Industri Ekstraktif
India Jadi Pasar Utama Ekspor Sawit Indonesia
Pada 2024, ekspor kelapa sawit Indonesia masih didominasi oleh 10 negara tujuan utama, dengan kontribusi mencapai 66,85 persen dari total volume ekspor.
Rinciannya sebagai berikut:
- India: sekitar Rp61,78 triliun (17,12%)
- Pakistan: sekitar Rp43,77 triliun (12,13%)
- Cina: sekitar Rp42,98 triliun (11,92%)
- Amerika Serikat: sekitar Rp24,49 triliun (6,79%)
Negara lainnya mencatat nilai ekspor di bawah Rp15,8 triliun per negara.
Impor Sawit Indonesia Sangat Kecil
Di sisi impor, Indonesia nyaris tidak bergantung pada pasokan luar negeri.
Sepanjang 2024, impor kelapa sawit hanya berasal dari beberapa negara dengan nilai relatif kecil, antara lain:
- Malaysia: sekitar Rp87,06 miliar
- Cina: sekitar Rp20,07 miliar
- Vietnam: sekitar Rp7,79 miliar
Hasil analisis menunjukkan ketergantungan impor (IDR) kelapa sawit Indonesia hanya berkisar 0,02–0,08 persen.
Tag



