ARUSBAWAH.CO - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali membuka fakta serius mengenai kerusakan ekologis dan besarnya potensi kerugian ekonomi.
Berdasarkan hasil pemodelan terbaru tim CELIOS per 30 November 2025 yang dilihat redaksi Arusbawah.co pada Kamis (04/12/2025), kerugian yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan masyarakat di provinsi terdampak, tetapi juga memberi dampak signifikan pada ekonomi nasional.
Hutan Menyusut, Risiko Bencana Ekologis Meningkat
Kerusakan hutan menjadi penyebab utama meningkatnya risiko ekologis di Sumatera.
Proporsi tutupan hutan Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun.
- Forest rent turun dari 0,81% PDB (2000) menjadi hanya 0,42% (2021).
- Penurunan ini menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi dari hutan makin melemah akibat masifnya konversi lahan.
- Fungsi ekologis hutan sebagai penyerap karbon (carbon sink) dan penyangga keanekaragaman hayati semakin hilang, memperbesar potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kebakaran.
Desa Tambang Lebih Rentan Terhadap Bencana
Analisis CELIOS menunjukkan desa yang berbasis sektor pertambangan memiliki risiko ekologis lebih tinggi dibanding desa non-tambang.
Temuannya antara lain:
- Akses air minum bersih lebih sulit di desa tambang.
- Potensi pencemaran tanah jauh lebih tinggi.
- Risiko banjir dan kebakaran lahan meningkat.
- Meski begitu, potensi pencemaran udara justru cenderung lebih rendah dibanding desa non-tambang.




