Dari Keraguan hingga Kemenangan
Namun, ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama, ia mengaku tak percaya.
“Aku sempat hampir nggak mau datang ke Banjarbaru karena mikir nggak bakal menang. Jaraknya juga jauh, sejam dari Banjarmasin. Tapi teman-teman nyemangatin, akhirnya datang. Eh, pas diumumkan juara satu, kaget banget. Nggak nyangka,” katanya.
Syarli melihat kaligrafi bukan sekadar seni rupa, tapi juga media dakwah islam visual.
Ia selalu membaca tafsir sebelum menulis ayat agar maknanya tersampaikan lewat gambar.
“Kaligrafi itu cara berdakwah. Orang bisa paham makna ayat hanya dari melihat karya. Misalnya ayat tentang kematian, aku bisa visualkan dengan simbol makam, langit suram, atau daun gugur. Jadi orang langsung tahu pesan ayatnya tanpa harus baca tafsir panjang,” jelasnya.
Untuk mencari inspirasi, Syarli banyak melihat referensi dari aplikasi Pinterest dan buku tafsir.
“Pinterest itu kayak dunia ide. Tapi tafsir tetap paling penting, karena posisi ayat nggak boleh salah. Harus sesuai konteks,” ujarnya.
Kini, setelah menorehkan prestasi nasional, Syarli tak ingin berhenti.
Ia masih punya target besar lain menjadi juara di MTQ Reguler tingkat nasional tahun depan.
“Aku pengin nyelesain yang sudah aku mulai. Setelah itu mungkin baru selesai, tapi sekarang aku masih pengen belajar dan tumbuh,” pungkasnya.
(wan/ sobiss)
Tag




