Arus Publik

Universitas Mulawarman Samarinda

Cerita Syarli Baizura, Gadis Samarinda yang Pernah ke Disneyland Hongkong Karena Juara, Kini Jadi Juara 1 Lagi Kaligrafi Nasional

Perjalanan Mahasiswi Fisipol Unmul Menuju Juara Nasional Kaligra

Rabu, 15 Oktober 2025 21:34

TUNJUKKAN KARYA - Syarli Baizura, mahasiswi Fisipol Unmul, menunjukkan hasil karya yang mengantarkannya meraih Juara 1 Cabang Kaligrafi Kontemporer MTQMN XVIII 2025/HO to Arusbawah.co

Ia pernah menjuarai lomba melukis nasional yang diselenggarakan oleh BNI, bahkan berhadiah perjalanan ke Disneyland Hongkong saat masih SD kelas 6.

Namun, bagi Syarli, kemenangan terbesar bukan hanya soal piala, tapi proses panjang yang ia lalui.

Saat di SMP, ia ikut Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat nasional cabang melukis.

Di SMA, fokusnya mulai beralih ke kaligrafi kontemporer.

“Kalau di SMA kan jarang lomba manual, kebanyakan digital. Aku belum terlalu ke sana, jadi tetap pilih kaligrafi. Kadang sebulan sekali ikut lomba, kadang dua bulan sekali. Nggak tentu, tapi kalau ada rezeki, ikut aja,” ujarnya.

Makna Kaligrafi Bagi Syarli Baizura

Seni kaligrafi kontemporer bagi Syarli bukan hanya permainan warna dan bentuk ayat suci Al-Qur'an.

Ada makna mendalam di balik setiap goresan cat dan kuas.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan utama antara kaligrafi klasik dan kontemporer terletak pada kebebasan seseorang berekspresi dalam melihat seni lukis.

“Kalau yang klasik itu pakem banget, ada ukuran titik, spasi, bahkan bentuk huruf diatur. Kalau kontemporer, lebih bebas. Tapi tetap harus patuh pada kaidah Al-Qur’an. Misalnya ayat tentang surga, ya nggak mungkin warnanya gelap dan misteri,” jelasnya.

Persiapan menuju ajang nasional ia lalui mengaku tidak mudah.

Dua hari sebelum berangkat ke Banjarmasin, ia sempat ikut MTQ tingkat Kota Samarinda yang dilaksanakan di Go Mall sebagai latihan persiapan untuk menuju ajang nasional.

“Itu aku anggap try out. Karena waktu lomba nasional itu kan ayatnya baru keluar beberapa jam sebelum lomba. Jadi aku latihannya bikin sketsa aja dulu, warna baru ditentukan di tempat. Latihan itu biar nanti nggak panik pas di arena,” katanya.

Durasi lomba Kaligrafi Kontemporer mencapai delapan jam, dan seluruh karya dikerjakan dari kanvas kosong.

“Capek sih, tapi seru. Tantangan terberatnya itu ngatur waktu. Karena hampir 8 jam itu cepat banget kalau harus mikir komposisi, warna, dan keterbacaan ayat,” tutur Syarli.

MAHASISWI UNMUL BERPRESTASI - Seni kaligrafi kontemporer bagi Syarli bukan hanya permainan warna dan bentuk ayat suci Al-Qur'an/ HO to Arusbawah.co
Tag

MORE