ARUSBAWAH.CO - Langkah Syarli Baizura mungkin tak sepopuler nama-nama mahasiswa berprestasi di kampus besar.
Tapi perempuan 21 tahun asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda itu berhasil menorehkan tinta emas di ajang paling bergengsi di tingkat nasional.
Ia menjadi Juara 1 Cabang Kaligrafi Kontemporer dalam Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVIII Tahun 2025 yang digelar di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.
Di balik kemenangannya, Syarli menyimpan perjalanan panjang dan tidak instan.
Kecintaannya pada seni dimulai dari hal yang sederhana dengan menggambar di atas kertas.
“Dari kecil aku memang sudah ikut lomba menggambar dan mewarnai sejak TK. Pas SMP baru tahu kalau ada kaligrafi kontemporer. Waktu itu penasaran, gimana sih rasanya ngelukis di kanvas, bukan cuma di kertas,” ujar Syarli saat berbincang dengan redaksi Arusbawah.co pada, Rabu (15/10/2025).
Dari Disneyland Hongkong Hingga MTQ Nasional 2025
Perkenalannya dengan dunia kaligrafi bermula dari lomba MTQ tingkat SD, ketika cabang kaligrafi kontemporer masih bersifat pameran.
Dari situ, bakatnya terus ia asah.
Berbagai jenis lomba-lomba menggambar telah banyak ia geluti sejak SD hingga SMA.
Ia mulai serius di bidang kaligrafi kontemporer sejak duduk di bangku kuliah, saat pertama kali lolos di tingkat provinsi dalam MTQ Reguler di Kota Bontang.
“Dari situ sering ikut Training Center. Dari pemkot, pemprov sering ada pelatihan. Nah, dari situlah aku mulai ketemu banyak guru, banyak teman, belajar dari mereka. Awalnya cuma ikut-ikut aja, lama-lama jatuh cinta,” katanya.
Syarli tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan seni.
Sang ayah sering menemaninya menggambar sejak kecil.
“Bapak yang ngajarin aku mewarnai, meski sebenarnya beliau nggak punya latar belakang seni. Tapi karena sering nemenin, lama-lama bisa juga,” ungkapnya.
Sejak kecil, Syarli dikenal aktif ikut lomba seni.
Ia pernah menjuarai lomba melukis nasional yang diselenggarakan oleh BNI, bahkan berhadiah perjalanan ke Disneyland Hongkong saat masih SD kelas 6.
Namun, bagi Syarli, kemenangan terbesar bukan hanya soal piala, tapi proses panjang yang ia lalui.
Saat di SMP, ia ikut Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat nasional cabang melukis.
Di SMA, fokusnya mulai beralih ke kaligrafi kontemporer.
“Kalau di SMA kan jarang lomba manual, kebanyakan digital. Aku belum terlalu ke sana, jadi tetap pilih kaligrafi. Kadang sebulan sekali ikut lomba, kadang dua bulan sekali. Nggak tentu, tapi kalau ada rezeki, ikut aja,” ujarnya.
Makna Kaligrafi Bagi Syarli Baizura
Seni kaligrafi kontemporer bagi Syarli bukan hanya permainan warna dan bentuk ayat suci Al-Qur'an.
Ada makna mendalam di balik setiap goresan cat dan kuas.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan utama antara kaligrafi klasik dan kontemporer terletak pada kebebasan seseorang berekspresi dalam melihat seni lukis.
“Kalau yang klasik itu pakem banget, ada ukuran titik, spasi, bahkan bentuk huruf diatur. Kalau kontemporer, lebih bebas. Tapi tetap harus patuh pada kaidah Al-Qur’an. Misalnya ayat tentang surga, ya nggak mungkin warnanya gelap dan misteri,” jelasnya.
Persiapan menuju ajang nasional ia lalui mengaku tidak mudah.
Dua hari sebelum berangkat ke Banjarmasin, ia sempat ikut MTQ tingkat Kota Samarinda yang dilaksanakan di Go Mall sebagai latihan persiapan untuk menuju ajang nasional.
“Itu aku anggap try out. Karena waktu lomba nasional itu kan ayatnya baru keluar beberapa jam sebelum lomba. Jadi aku latihannya bikin sketsa aja dulu, warna baru ditentukan di tempat. Latihan itu biar nanti nggak panik pas di arena,” katanya.
Durasi lomba Kaligrafi Kontemporer mencapai delapan jam, dan seluruh karya dikerjakan dari kanvas kosong.
“Capek sih, tapi seru. Tantangan terberatnya itu ngatur waktu. Karena hampir 8 jam itu cepat banget kalau harus mikir komposisi, warna, dan keterbacaan ayat,” tutur Syarli.

Dari Keraguan hingga Kemenangan
Namun, ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama, ia mengaku tak percaya.
“Aku sempat hampir nggak mau datang ke Banjarbaru karena mikir nggak bakal menang. Jaraknya juga jauh, sejam dari Banjarmasin. Tapi teman-teman nyemangatin, akhirnya datang. Eh, pas diumumkan juara satu, kaget banget. Nggak nyangka,” katanya.
Syarli melihat kaligrafi bukan sekadar seni rupa, tapi juga media dakwah islam visual.
Ia selalu membaca tafsir sebelum menulis ayat agar maknanya tersampaikan lewat gambar.
“Kaligrafi itu cara berdakwah. Orang bisa paham makna ayat hanya dari melihat karya. Misalnya ayat tentang kematian, aku bisa visualkan dengan simbol makam, langit suram, atau daun gugur. Jadi orang langsung tahu pesan ayatnya tanpa harus baca tafsir panjang,” jelasnya.
Untuk mencari inspirasi, Syarli banyak melihat referensi dari aplikasi Pinterest dan buku tafsir.
“Pinterest itu kayak dunia ide. Tapi tafsir tetap paling penting, karena posisi ayat nggak boleh salah. Harus sesuai konteks,” ujarnya.
Kini, setelah menorehkan prestasi nasional, Syarli tak ingin berhenti.
Ia masih punya target besar lain menjadi juara di MTQ Reguler tingkat nasional tahun depan.
“Aku pengin nyelesain yang sudah aku mulai. Setelah itu mungkin baru selesai, tapi sekarang aku masih pengen belajar dan tumbuh,” pungkasnya.
(wan/ sobiss)




