Arus Publik

Bukan Meninggalkan Jas Putih, Andi Satya Memilih Memperluas Cara Mengabdi

POTRET - Potret Andi Satya saat bertugas di bidang kesehatan (kiri) dan saat dirinya bekerja sebagai anggota dewan (kanan)/ Kolase oleh Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Menjadi dokter spesialis obstetri dan ginekologi sebenarnya sudah menjadi jalan hidup dr. Andi Satya Adi Saputra.

Namun setidaknya dua tahun terakhir, ia justru dikenal sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim dari Partai Golkar.

Tak sedikit yang mempertanyakan keputusannya masuk dunia politik.

Pertanyaan yang paling sering ia dengar pun sederhana.

"Dok, kenapa banting setir ke politik?"

Andi Satya mengaku pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali bertemu masyarakat.

Namun menurutnya, anggapan tersebut tidak tepat.

"Sebenarnya saya tidak banting setir. Kalau banting setir itu saya jadi dokter lalu berhenti menjadi dokter karena masuk politik. Faktanya tidak seperti itu," katanya.

Ia menegaskan hingga hari ini dirinya masih membuka praktik, melayani pasien, hingga melakukan operasi sesar.

"Saya tetap melayani pasien, tetap praktik sehari-hari, tetap operasi sesar seperti biasa. Jadi saya tetap menjalankan pengabdian sebagai dokter, sekaligus menjalankan amanah sebagai wakil rakyat di DPRD," ujarnya.

Baginya, politik bukanlah profesi baru yang menggantikan dunia medis.

Justru keduanya saling melengkapi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

"Saya tetap menjalani pengabdian saya sebagai dokter, tapi juga sekaligus sebagai wakil rakyat di DPRD," katanya.

"Kalau Jadi Dokter, Saya Membantu Orang Satu per Satu"

Andi Satya bilang, alasan terbesar dirinya masuk politik bukan karena jabatan.

Ia justru melihat DPRD sebagai ruang untuk memperbesar manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat.

Menurutnya, dokter memang mampu menyelamatkan banyak orang.

Namun dampaknya tetap terbatas kepada pasien yang datang berobat.

Sementara melalui kebijakan publik, manfaatnya dapat dirasakan jauh lebih luas.

"Kalau saya menjadi dokter, saya membantu pasien satu per satu. Membantu orang per orang. Dan tentu dokter itu profesi yang sangat mulia," katanya.

Namun ketika duduk di DPRD, ia melihat ruang pengabdiannya menjadi lebih besar.

"Kalau saya masuk DPRD, ikut membuat perda, ikut mengesahkan perda, manfaatnya tidak hanya menyentuh satu orang, tapi bisa sekaligus dirasakan banyak masyarakat," tuturnya.

Ia kemudian memberi contoh sederhana.

"Bayangkan kalau saya hanya mengobati ibu hamil, mungkin satu orang, dua orang, tiga orang yang saya bantu," jelas Andi Satya.

Tetapi ketika lahir sebuah kebijakan daerah mengenai perlindungan ibu dan anak, manfaatnya menurut Andi bisa menjangkau ribuan masyarakat.

"Kalau lahir perda perlindungan anak, perda perlindungan ibu, perda pemberantasan stunting, maka manfaatnya multiplier effect-nya berkali-kali lipat. Cakupannya jauh lebih luas," beber pria kelahiran Ujung Pandang, 11 Juli 1982 ini.

Karena itulah ia memilih masuk politik.

"Itulah salah satu motivasi kami. Semoga tenaga yang kami sumbangkan ini bisa bermanfaat untuk Kalimantan Timur," harapnya.

 

Tak Pernah Bermimpi Jadi Politikus

Sebernarnya, menjadi politisi tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya.

Bahkan keluarganya mengetahui bahwa sejak awal cita-citanya hanyalah menjadi dokter.

"Terus terang, saya sendiri di awal karier tidak ada terpikir untuk terjun ke dunia politik," katanya.

Ia bahkan mempersilakan siapa pun menanyakan hal tersebut kepada kedua orang tuanya.

"Boleh ditanyakan ke ayahanda dan ibunda, sama sekali saya tidak terpikir untuk terjun ke politik," ungkapnya.

Menurutnya, keputusan tersebut lahir setelah ia melihat politik sebagai instrumen untuk memperluas pengabdian.

Apalagi, menurut Andi Satya, regenerasi kepemimpinan menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda di tengah dominasi generasi muda dalam struktur penduduk Indonesia.

Ia menilai saat ini sudah banyak tokoh muda yang dipercaya memimpin di berbagai negara.

Mulai dari Kim Jong-un di Korea Utara, Mohammed bin Salman di Arab Saudi, hingga Emir Qatar Tamim bin Hamad.

Di Indonesia, ia juga menilai fenomena serupa mulai terlihat.

"Wakil Presiden kita Bapak Gibran Rakabuming Raka. Emil Dardak. Bobby Nasution."

Karena itu ia meyakini sudah waktunya generasi muda tampil.

"Memang saatnya pemimpin-pemimpin muda ini tampil," katanya.

Ia mengaitkan hal itu dengan komposisi penduduk Indonesia yang kini didominasi Generasi Y atau Milenial, Generasi Z, dan Generasi Alpha.

"Kalau diakumulasikan totalnya hampir 200 juta orang. Jadi sudah lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia berasal dari generasi muda," jelasnya.

Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 menunjukkan dominasi generasi muda dalam struktur penduduk Indonesia.

Dari total 284,67 juta jiwa penduduk, Generasi Z menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 24,93 persen, disusul Generasi Milenial sebesar 24,34 persen.

Kemudian, generasi paling muda yang disebut Post Gen Z atau Gen Alpha punya porsi sebesar 19,65%.

Artinya, sekitar 68 persen penduduk Indonesia kini berasal dari kelompok generasi muda, yakni Generasi Milenial, Generasi Z, dan Generasi Alfa. 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat regenerasi kepemimpinan menjadi sebuah kebutuhan.

"Sudah sangat sepantasnya pemimpin-pemimpin lahir dari kalangan muda supaya ada keterwakilan dari anak-anak muda," tutupnya.

(sobizz/raf)

 

Tag

MORE