"Kalau saya menjadi dokter, saya membantu pasien satu per satu. Membantu orang per orang. Dan tentu dokter itu profesi yang sangat mulia," katanya.
Namun ketika duduk di DPRD, ia melihat ruang pengabdiannya menjadi lebih besar.
"Kalau saya masuk DPRD, ikut membuat perda, ikut mengesahkan perda, manfaatnya tidak hanya menyentuh satu orang, tapi bisa sekaligus dirasakan banyak masyarakat," tuturnya.
Ia kemudian memberi contoh sederhana.
"Bayangkan kalau saya hanya mengobati ibu hamil, mungkin satu orang, dua orang, tiga orang yang saya bantu," jelas Andi Satya.
Tetapi ketika lahir sebuah kebijakan daerah mengenai perlindungan ibu dan anak, manfaatnya menurut Andi bisa menjangkau ribuan masyarakat.
"Kalau lahir perda perlindungan anak, perda perlindungan ibu, perda pemberantasan stunting, maka manfaatnya multiplier effect-nya berkali-kali lipat. Cakupannya jauh lebih luas," beber pria kelahiran Ujung Pandang, 11 Juli 1982 ini.
Karena itulah ia memilih masuk politik.
"Itulah salah satu motivasi kami. Semoga tenaga yang kami sumbangkan ini bisa bermanfaat untuk Kalimantan Timur," harapnya.
- Ranking Ketersediaan Nakes Puskesmas di Kaltim 2025: Bontang Nomor 1, Samarinda Baru 57,69 Persen
- LKPJ Gubernur Kaltim 2025: Pembangunan Rumah Sakit Mayoritas Tuntas, FS dan DED RSUD Kutai Barat Masih 0 Persen
- Di Balik Kesibukan di DPRD, Yenni Eviliana Pilih Padel untuk Jaga Stamina dan Pikiran Tetap Segar
Tak Pernah Bermimpi Jadi Politikus
Sebernarnya, menjadi politisi tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya.
Bahkan keluarganya mengetahui bahwa sejak awal cita-citanya hanyalah menjadi dokter.
"Terus terang, saya sendiri di awal karier tidak ada terpikir untuk terjun ke dunia politik," katanya.
Ia bahkan mempersilakan siapa pun menanyakan hal tersebut kepada kedua orang tuanya.
"Boleh ditanyakan ke ayahanda dan ibunda, sama sekali saya tidak terpikir untuk terjun ke politik," ungkapnya.
Menurutnya, keputusan tersebut lahir setelah ia melihat politik sebagai instrumen untuk memperluas pengabdian.
Apalagi, menurut Andi Satya, regenerasi kepemimpinan menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda di tengah dominasi generasi muda dalam struktur penduduk Indonesia.
Tag



