Arus Daerah

Astaga! Kelompok Lelaki Sama Lelaki Dominasi Kasus HIV di Kota Tepian

Tren HIV di Samarinda Ternyata Seperti Itu...

Kamis, 21 Agustus 2025 20:12

ILUSTRASI - Kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) menjadi penyumbang tertinggi kasus HIV di Samarinda, sejalan dengan tren nasional/ Unsplash

ARUSBAWAH.CO -  Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengungkapkan fakta mengejutkan.

Kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) menjadi penyumbang tertinggi kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Samarinda, sejalan dengan tren nasional.

“Ini bukan sekadar isu kesehatan, tapi juga isu sosial dan moral. Data nasional menunjukkan kelompok LSL mendominasi kasus HIV, dan Samarinda tidak berbeda. Setelah itu ada perilaku seks bebas,” tegas Ismed, Selasa (19/8/2025) kemarin. 

Saat ini, sekitar 2.000 pasien HIV di Samarinda tercatat menjalani pengobatan rutin. Tahun lalu, dari puluhan ribu orang yang diskrining, ditemukan sekitar 500 kasus baru.

Ismed menekankan pentingnya deteksi dini.

“Prinsip penanganan penyakit menular sederhana: semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati, semakin kecil risiko kematian,” jelasnya.

Bahaya HIV yang Berkembang Menjadi AIDS

Menurut Ismed, HIV yang tidak segera diobati bisa berkembang menjadi AIDS dengan risiko kematian lebih tinggi.

Pengobatan teratur diperlukan untuk mencegah perkembangan penyakit.

“Virusnya mungkin tetap ada dalam darah, tapi jangan sampai jatuh ke tahap AIDS. Itu yang dicegah dengan terapi rutin,” tambahnya.

 

HIV Masuk Program Standar Pelayanan Minimal

HIV kini termasuk dalam 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kementerian Kesehatan. Artinya, pemerintah daerah wajib memberikan layanan deteksi hingga pengobatan kepada masyarakat.

“Screening harus jadi prioritas. Sama seperti TBC yang kini program nasional, kuncinya ada di deteksi cepat,” kata Ismed.

Screening dinilai efektif untuk mendeteksi penyakit pada orang tanpa gejala sekaligus menahan laju penyebaran.

Pencegahan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Tenaga Medis

Meski tenaga kesehatan siap menangani di hilir, Ismed menegaskan pencegahan HIV membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

“Kalau pencegahan di hulu lemah, kasus baru akan terus muncul. Penanganan HIV tidak bisa hanya dokter dan perawat, tapi juga pendidikan, tokoh agama, aparat, hingga komunitas masyarakat,” ujarnya.

Ia bahkan menilai kebijakan sosial, seperti pembatasan jam malam atau aturan lain yang mengatur perilaku masyarakat, bisa menjadi salah satu opsi untuk menekan penyebaran HIV.

“Ini bukan hanya urusan kesehatan, tapi urusan bersama,” tegasnya.

Peringatan Dinkes Samarinda untuk Semua Pihak

Dengan dominasi kasus HIV dari kelompok LSL dan perilaku seks berisiko lainnya, Ismed mengingatkan agar semua pihak ikut terlibat aktif dalam pencegahan.

“Kesehatan tidak bisa berdiri sendiri. Screening itu penting, tapi kesadaran kolektif jauh lebih penting. Kalau hanya bergerak di hilir, kita akan terus kebobolan,” ujarnya.

Ismed berharap penanganan HIV bisa meniru strategi TBC yang fokus pada deteksi dini.

“HIV harus diperlakukan sama. Kalau kita bisa bergerak cepat, kita bisa selamatkan lebih banyak nyawa,” pungkasnya. (pra)

 

Tag

MORE