“Dengan tes urine, perempuan cukup menampung air kencing ke dalam botol khusus, lalu diuji dengan alat pendeteksi HPV. Tidak perlu tenaga medis, lebih nyaman, dan hasilnya cepat keluar,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa metode ini bisa menjadi jalan keluar untuk menjangkau perempuan di wilayah terpencil atau yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan, karena tidak membutuhkan peralatan medis kompleks.
“Kalau diterapkan secara luas lewat program berbasis komunitas, pemeriksaan ini bisa menyelamatkan banyak nyawa. Ini langkah besar dalam deteksi dini yang lebih inklusif,” tegasnya.
Andi berharap, melalui pendekatan yang lebih sensitif terhadap privasi dan kenyamanan perempuan, stigma yang selama ini melekat pada pemeriksaan kanker serviks bisa semakin berkurang.
“Kesehatan perempuan adalah pondasi utama bagi kesehatan keluarga dan masyarakat. Kalau kita ingin membangun masyarakat yang kuat, maka kita harus memastikan perempuan juga sehat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kanker serviks di Indonesia menjadi penyumbang kematian tertinggi kedua pada wanita, setelah kanker payudara. Dari 36 ribu kasus yang dilaporkan setiap tahun, 21 ribu di antaranya meninggal dunia.
Berbagai jenis human papillomavirus, yang juga disebut HPV, berperan sebagai sebagian besar pemicu kanker serviks. HPV adalah infeksi umum yang ditularkan melalui hubungan seksual. Saat terpapar HPV, sistem kekebalan tubuh biasanya mencegah virus tersebut membahayakan.
Namun, pada sebagian kecil orang, virus tersebut bertahan hidup selama bertahun-tahun. Hal ini berkontribusi pada proses yang menyebabkan beberapa sel serviks menjadi sel kanker. (adv)
Tag



