Advertorial

Angka Kematian Akibat Kanker Serviks di Tanah Air Masih Tinggi, Andi Satya Dorong Pemeriksaan Deteksi Dini HPV Berbasis Komunitas

Jumat, 13 Juni 2025 10:20

Anggota DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra/ IST

ARUSBAWAH.CO - Berangkat dari profesinya yang juga merupakan dokter, anggota DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra turut memberikan pandangan soal tingginya angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia. 

Pria yang kini duduk di Komisi IV DPRD Kaltim itu menyatakan keprihatinannya. 

Untuk bisa mencegah tingginya angka kematian akibat kanker serviks itu, ia mendorong Dinas Kesehatan Kaltim untuk segera mengadopsi metode skrining yang lebih ramah terhadap privasi perempuan, seperti pemeriksaan melalui tes urine.

“Data menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari penderita kanker serviks meninggal dunia setiap tahunnya. Dari sekitar 36.600 kasus, ada lebih dari 18 ribu yang meninggal. Ini bukan angka kecil,” ujar Andi Satya.

Sebagai dokter spesialis kandungan, ia memahami bahwa salah satu hambatan utama dalam deteksi dini kanker serviks adalah metode pemeriksaan yang masih dianggap tidak nyaman dan mengganggu privasi, terutama oleh perempuan yang belum menikah.

Pemeriksaan konvensional menggunakan alat spekulum (cocor bebek) untuk mengambil sampel dari leher rahim kerap menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan malu, yang membuat banyak perempuan memilih untuk menghindari skrining.

“Metode lama membuat banyak perempuan enggan diperiksa. Rasa malu dan ketidaknyamanan itu jadi penghalang utama,” jelasnya. 

Sebagai solusi, Andi mendorong pemanfaatan tes urine sebagai metode deteksi dini HPV (Human Papilloma Virus), yang merupakan penyebab utama kanker serviks. Pemeriksaan ini dinilai lebih praktis, tidak invasif, dan bisa dilakukan secara mandiri.

“Dengan tes urine, perempuan cukup menampung air kencing ke dalam botol khusus, lalu diuji dengan alat pendeteksi HPV. Tidak perlu tenaga medis, lebih nyaman, dan hasilnya cepat keluar,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa metode ini bisa menjadi jalan keluar untuk menjangkau perempuan di wilayah terpencil atau yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan, karena tidak membutuhkan peralatan medis kompleks.

“Kalau diterapkan secara luas lewat program berbasis komunitas, pemeriksaan ini bisa menyelamatkan banyak nyawa. Ini langkah besar dalam deteksi dini yang lebih inklusif,” tegasnya.

Andi berharap, melalui pendekatan yang lebih sensitif terhadap privasi dan kenyamanan perempuan, stigma yang selama ini melekat pada pemeriksaan kanker serviks bisa semakin berkurang.

“Kesehatan perempuan adalah pondasi utama bagi kesehatan keluarga dan masyarakat. Kalau kita ingin membangun masyarakat yang kuat, maka kita harus memastikan perempuan juga sehat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kanker serviks di Indonesia menjadi penyumbang kematian tertinggi kedua pada wanita, setelah kanker payudara. Dari 36 ribu kasus yang dilaporkan setiap tahun, 21 ribu di antaranya meninggal dunia.

Berbagai jenis human papillomavirus, yang juga disebut HPV, berperan sebagai sebagian besar pemicu kanker serviks. HPV adalah infeksi umum yang ditularkan melalui hubungan seksual. Saat terpapar HPV, sistem kekebalan tubuh biasanya mencegah virus tersebut membahayakan.

Namun, pada sebagian kecil orang, virus tersebut bertahan hidup selama bertahun-tahun. Hal ini berkontribusi pada proses yang menyebabkan beberapa sel serviks menjadi sel kanker. (adv)

Tag

MORE