ARUSBAWAH.CO - Wacana keberlanjutan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Probebaya Tanpa AH, Bisa?” inisiasi media Arusbawah.co yang digelar di Science Learning Center, Universitas Mulawarman, Minggu (15/2/2025).
Diskusi ini menghadirkan Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri, Ketua DPC Gerindra Helmi Abdullah, Ketua DPC PDIP Iswandi, Ketua DPD PKS Ismail Latisi, Koordinator Pokja 30 Buyung Marajo, dan Akademisi Kebijakan Publik Saiful Bahtiar, sebagai narasumber.
Probebaya sendiri adalah program unggulan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, sejak periode pertamanya.
Program ini mengalokasikan anggaran Rp100 juta per RT setiap tahun.
Dana tersebut digunakan untuk pembangunan lingkungan, infrastruktur skala kecil, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat, sebagai upaya pemerataan pembangunan hingga tingkat rukun tetangga.
Pernyataan menarik datang dari salah satu peserta diskusi, Parawansa Assoniwora.
Ia menilai Probebaya merupakan program luar biasa yang mengakhiri stagnasi pembangunan Samarinda selama hampir dua dekade terakhir.
Namun, menurutnya, program tersebut sangat lekat dengan figur Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH).
“Kalau pertanyaannya Probebaya tanpa AH, bisa? Saya katakan sangat sulit dan hampir tidak bisa. Karena ini terkait persoalan gagasan dan kepemimpinan,” ujarnya.
Parawansa menyebut, secara pengalaman politik, jarang ada program kepala daerah yang dilanjutkan pemimpin berikutnya dengan nama dan proses yang sama. Biasanya, program berganti nama atau bahkan gagal berlanjut.
Ia bahkan menyebut Probebaya dan Andi Harun sebagai dua hal yang sulit dipisahkan.
“Probebaya ini adalah Andi Harun, dan Andi Harun adalah Probebaya,” katanya.
Karena itu, ia mengusulkan agar program tersebut segera “dikunci” melalui Peraturan Daerah (Perda).
Tag



