ARUSBAWAH.CO - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir Desember 2024, jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 69.420 orang.
Dari total tersebut, 28.438 adalah laki-laki dan 40.982 perempuan, menunjukkan dominasi pegawai perempuan dalam struktur ASN di Bumi Etam.
Data Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kaltim mencatat bahwa Golongan III D menjadi pangkat dengan jumlah PNS terbanyak, yakni 18.177 orang.
Pangkat ini umumnya diisi pegawai senior tingkat menengah yang memiliki peran strategis di berbagai instansi pemerintah.
5 Pangkat PNS Terbanyak di Kaltim
Golongan III D – 18.177 orang
Terdiri dari 6.725 laki-laki dan 11.452 perempuan.
Umumnya diisi ASN senior dengan masa kerja panjang di jabatan fungsional dan struktural menengah.
Golongan III C – Lebih dari 14.000 orang
Didominasi pegawai perempuan, golongan ini banyak diisi guru, tenaga kesehatan, dan staf ahli di pemerintahan daerah.
Golongan III B – Lebih dari 10.000 orang
ASN di golongan ini biasanya berada pada tahap awal karier menengah, sebagian besar di sektor pendidikan.
Golongan IV A – Sekitar 9.000 orang
Pangkat ini mulai masuk kategori pejabat tinggi pratama dan ASN berpengalaman di jabatan fungsional ahli.
Golongan III A – Sekitar 8.000 orang
Banyak ditempati ASN yang baru naik dari golongan II, dengan usia karier menengah ke bawah.
Golongan lainnya memiliki jumlah pegawai di bawah 7.000 orang secara total.
Dominasi Perempuan di ASN Kaltim
Dari total 69.420 PNS, 40.982 di antaranya adalah perempuan, atau sekitar 59%.
Tren ini sejalan dengan besarnya proporsi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang umumnya diisi oleh pegawai perempuan.
Golongan III D dan III C menjadi pangkat yang paling banyak diisi oleh pegawai perempuan.
Golongan III D, Penopang Utama Mesin Birokrasi Kaltim
Dengan 18.177 pegawai, Golongan III D tidak hanya menjadi pangkat terbanyak, tetapi juga tulang punggung birokrasi di Kalimantan Timur.
Mayoritas mereka adalah ASN berpengalaman yang menguasai teknis pelayanan publik, memiliki jejaring kerja luas, dan menduduki posisi strategis di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga administrasi pemerintahan.
Dominasi perempuan di golongan ini turut memberi warna pada kinerja birokrasi, terutama di sektor layanan masyarakat yang membutuhkan ketelitian dan empati.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan kinerja di tengah ancaman pensiun massal dan kebutuhan regenerasi ASN. (pra)




