Taman Nasional Danau Sentarum bukan sekadar destinasi wisata, ia adalah jantung ekosistem yang menyimpan warisan alam, budaya, dan kehidupan yang tak ternilai.
Taman Nasional Gunung Palung
Taman Nasional Gunung Palung membentang megah di wilayah Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Jejak perlindungan kawasan Taman Nasional Gunung Palung ini sudah dimulai sejak 1937, ketika ditetapkan sebagai hutan cagar alam seluas 300 km².
Pada 1981, wilayah Taman Nasional Gunung Palung diperluas menjadi 900 km² dan naik status menjadi suaka margasatwa.
Puncaknya, pada 24 Maret 1990, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 448/Menhut-VI/1990, kawasan Taman Nasional Gunung Palung resmi berstatus taman nasional dengan luas ±90.000 hektare.
Perluasan kembali dilakukan pada 10 Juni 2014 melalui SK No. 4191/Menhut-VII/KUH/2014, menjadikan Taman Nasional Gunung Palung seluas 108.043,90 hektare.
Kini, Taman Nasional Gunung Palung mencakup wilayah Kecamatan Matan Hilir Utara, Sukadana, Simpang Hilir, Nanga Tayap, dan Sandai.
Dikenal memiliki ekosistem paling lengkap di antara taman nasional di Indonesia, Taman Nasional Gunung Palung menjadi rumah bagi Gunung Palung yang menjulang setinggi 1.116 meter.
Lebih dari itu, kawasan Taman Nasional Gunung Palung ini menjadi habitat sekitar 2.500 ekor orangutan liar, serta menjadi rumah bagi bekantan, populasi mamalia terbesar di taman nasional ini, dan kijang mini, satwa langka yang hanya ditemukan di sini.
Sejak 2003, masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Palung ikut terlibat aktif melindungi orangutan dan hutan mereka melalui kelompok Orangutan Protection & Monitoring Units (OPMU).
Komitmen mereka pada Taman Nasional Gunung Palung bahkan menarik perhatian dunia, dengan dukungan dari Fauna & Flora International, lembaga konservasi berbasis di Inggris, untuk memperkuat upaya perlindungan di lapangan.
Penutup
Ketiga taman nasional sebagai konservasi alam di Kalimantan Barat ini bukan sekadar benteng terakhir keanekaragaman hayati, tetapi juga cerminan harmoni antara manusia dan alam yang semakin langka di era modern.
Dari perbatasan rimba Taman Nasional Betung Kerihun, rawa memesona di Taman Nasional Danau Sentarum, hingga hutan megah pada Taman Nasional Gunung Palung, setiap jengkalnya menyimpan kisah perjuangan menjaga bumi dari kepunahan.
Menjaga kawasan konservasi alam tersebut berarti menjaga masa depan, bukan hanya bagi satwa liar dan hutan tropis, tetapi juga bagi generasi yang akan datang di Kalimantan Barat. (apr)




