ARUSBAWAH.CO - Di balik riuhnya pembangunan dan derasnya arus modernisasi, Kalimantan Barat masih menyimpan mutiara hijau konservasi alam yang tak lekang oleh waktu berupa taman nasional.
Dari hutan hujan tropis di perbatasan hingga rawa luas yang bermandikan air Sungai Kapuas, bentang alam konservasi alam di Kalimantan Barat ini menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, sekaligus nadi kehidupan masyarakat adat yang menjaganya.
Kawasan konservasi alam di Kalimantan Barat ini bukan hanya menjadi benteng terakhir pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga panggung di mana kekayaan budaya dan keindahan alam berpadu.
Penasaran, apa saja kawasan taman nasional yang menjadi konservasi alam di Kalimantan Barat? Simak informasinya berikut!
3 Taman Nasional sebagai Konservasi Alam di Kalimantan Barat
Taman Nasional Betung Kerihun
Dijuluki sebagai “surga di perbatasan Malaysia”, Taman Nasional Betung Kerihun menyimpan pesona alam yang sulit ditandingi.
Terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun ini berdiri megah di titik temu perbatasan, yakni utara berbatasan langsung dengan Serawak (Malaysia Timur), selatan dengan Kalimantan Tengah, timur dengan Kalimantan Timur, dan barat dengan Kabupaten Sintang.
Dengan luas mencapai 800.000 hektare, Taman Nasional Betung Kerihun menawarkan panorama hutan tropis yang memukau, lengkap dengan flora dan fauna endemik yang langka.
Sungai berliku, deretan gunung, hingga kekayaan budaya masyarakat setempat menjadi daya tarik tersendiri bagi para petualang yang mengunjungi Taman Nasional Betung Kerihun.
Bagi yang ingin berkunjung ke Taman Nasional Betung Kerihun, persiapan matang adalah kunci.
Calon wisatawan disarankan menghubungi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun di Putussibau untuk informasi dan registrasi.
Perjalanan biasanya dimulai dari Pontianak menuju Putussibau melalui jalur udara, dilanjutkan petualangan menyusuri Sungai Kapuas, Sungai Sibau, dan Sungai Mendalam dengan perahu selama sekitar lima jam.
Sejarah Taman Nasional Betung Kerihun dimulai pada 1982, ketika Menteri Pertanian menetapkan kawasan ini sebagai area konservasi alam seluas 600.000 hektare.
Sepuluh tahun kemudian, luas Taman Nasional Betung Kerihun bertambah menjadi 800.000 hektare dan statusnya naik menjadi taman nasional.
Karena posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia, kedua negara memiliki komitmen bersama untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Betung Kerihun.
Bahkan, pada Februari 2004, Indonesia dan Malaysia secara resmi mengajukan kepada UNESCO agar Taman Nasional Betung Kerihun diakui sebagai salah satu situs warisan dunia.
Taman Nasional Danau Sentarum
Di jantung Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, terbentang Taman Nasional Danau Sentarum, salah satu kawasan konservasi terunik di dunia.
Seluas 130.000 hektare, kawasan Taman Nasional Danau Sentarum didominasi hutan rawa tergenang yang membentuk mosaik sungai besar dan kecil.
Selama sekitar sepuluh bulan dalam setahun, air Sungai Kapuas membanjiri kawasan Taman Nasional Danau Sentarum ini, mengubahnya menjadi hamparan lahan basah seluas lebih dari 120.000 hektare, pemandangan yang jarang dijumpai di belahan dunia manapun.
Secara administratif, Taman Nasional Danau Sentarum mencakup tujuh kecamatan, yaitu Batang Lupar, Badau, Jongkong, Bunut Hilir, Suhaid, Selimbau, dan Semitau.
Letak Taman Nasional Danau Sentarum sekitar 700 km dari Pontianak atau ±100 km di utara garis khatulistiwa, tepat di jantung ekosistem tropis Kalimantan.
Kekayaan Flora dan Fauna Taman Nasional Danau Sentarum adalah rumah bagi 675 spesies tumbuhan dari 97 familia, termasuk 154 jenis anggrek, tiga di antaranya endemik dan sepuluh lainnya baru ditemukan.
Tumbuhan ikonik seperti Vatica menungau, Shorea balangeran, Gonytylus bancanus, hingga Crateva religiosa yang juga ditemukan di Amazon, tumbuh subur di Taman Nasional Danau Sentarum.
Perairan Taman Nasional Danau Sentarum dihuni 265 jenis ikan air tawar, dari mungilnya ikan Linut berukuran 1 cm hingga ikan Tapah raksasa sepanjang dua meter.
Ikan konsumsi, seperti Toman, Jelawat, dan Patin hidup berdampingan dengan ikan hias eksotis seperti Botia dan Arwana Super Red.
Bahkan, 13 spesies ikan di Taman Nasional Danau Sentarum baru teridentifikasi.
Kekayaan mamalia tak kalah mengagumkan, terdapat 147 jenis, termasuk 23 spesies langka, seperti Bekantan, Orang Utan, Macan Dahan, dan Kelempiau Kalimantan.
Dunia burung pun semarak dengan 310 jenis, termasuk Bangau Hutan Rawa yang langka, 8 spesies Rangkong, serta burung-burung khas rawa yang dilindungi secara internasional.
Tak ketinggalan, 31 jenis reptil hidup di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum ini, di antaranya Buaya Muara dan bahkan Buaya Katak (Crocodylus raninus) yang diduga telah punah di Asia selama 150 tahun.
Selain menjadi laboratorium alam, Taman Nasional Danau Sentarum menawarkan petualangan wisata yang kaya, di antaranya ialah:
- Artefak budaya: rumah betang di Sungai Sedik, Empaik, dan Ukit-Ukit, serta Pulau Melayu yang disakralkan.
- Bentang alam: danau luas dikelilingi perbukitan hijau.
- Atraksi satwa: parade burung langka dan mamalia endemik.
- Flora unik: 89% berbeda dari jenis yang ada di DAS Kapuas.
- Kebudayaan lokal: adat Melayu dalam mengelola ikan dan beternak lebah, serta ritual tradisional suku Iban dan Kantuk yang memukau.
Taman Nasional Danau Sentarum bukan sekadar destinasi wisata, ia adalah jantung ekosistem yang menyimpan warisan alam, budaya, dan kehidupan yang tak ternilai.
Taman Nasional Gunung Palung
Taman Nasional Gunung Palung membentang megah di wilayah Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Jejak perlindungan kawasan Taman Nasional Gunung Palung ini sudah dimulai sejak 1937, ketika ditetapkan sebagai hutan cagar alam seluas 300 km².
Pada 1981, wilayah Taman Nasional Gunung Palung diperluas menjadi 900 km² dan naik status menjadi suaka margasatwa.
Puncaknya, pada 24 Maret 1990, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 448/Menhut-VI/1990, kawasan Taman Nasional Gunung Palung resmi berstatus taman nasional dengan luas ±90.000 hektare.
Perluasan kembali dilakukan pada 10 Juni 2014 melalui SK No. 4191/Menhut-VII/KUH/2014, menjadikan Taman Nasional Gunung Palung seluas 108.043,90 hektare.
Kini, Taman Nasional Gunung Palung mencakup wilayah Kecamatan Matan Hilir Utara, Sukadana, Simpang Hilir, Nanga Tayap, dan Sandai.
Dikenal memiliki ekosistem paling lengkap di antara taman nasional di Indonesia, Taman Nasional Gunung Palung menjadi rumah bagi Gunung Palung yang menjulang setinggi 1.116 meter.
Lebih dari itu, kawasan Taman Nasional Gunung Palung ini menjadi habitat sekitar 2.500 ekor orangutan liar, serta menjadi rumah bagi bekantan, populasi mamalia terbesar di taman nasional ini, dan kijang mini, satwa langka yang hanya ditemukan di sini.
Sejak 2003, masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Palung ikut terlibat aktif melindungi orangutan dan hutan mereka melalui kelompok Orangutan Protection & Monitoring Units (OPMU).
Komitmen mereka pada Taman Nasional Gunung Palung bahkan menarik perhatian dunia, dengan dukungan dari Fauna & Flora International, lembaga konservasi berbasis di Inggris, untuk memperkuat upaya perlindungan di lapangan.
Penutup
Ketiga taman nasional sebagai konservasi alam di Kalimantan Barat ini bukan sekadar benteng terakhir keanekaragaman hayati, tetapi juga cerminan harmoni antara manusia dan alam yang semakin langka di era modern.
Dari perbatasan rimba Taman Nasional Betung Kerihun, rawa memesona di Taman Nasional Danau Sentarum, hingga hutan megah pada Taman Nasional Gunung Palung, setiap jengkalnya menyimpan kisah perjuangan menjaga bumi dari kepunahan.
Menjaga kawasan konservasi alam tersebut berarti menjaga masa depan, bukan hanya bagi satwa liar dan hutan tropis, tetapi juga bagi generasi yang akan datang di Kalimantan Barat. (apr)




